Wacana

Arus Mudik dan Disparitas Wilayah

SETELAH sempat menghadapi kendala pandemi Covid-19 selama dua tahun lebih, mudik lebaran 2023 diprediksi melonjak. Sebanyak 123,8 juta orang diperkirakan akan memenuhi jalan-jalan antarkota. Keinginan untuk merayakan Lebaran dan mudik ke kampung halaman menyebabkan arus mudik pada tahun ini meningkat 14,2 persen atau naik 38,3 juta orang dibanding pada 2022.

Berbeda dengan unjung-unjung, yang berarti warga masyarakat berkunjung ke sanak saudara dan tetangga, mudik umumnya berkisah tentang penduduk migran dari kota besar yang pulang ke tanah kelahirannya. Mudik adalah ritual tahunan yang senantiasa dilakukan orang-orang yang melakukan urbanisasi ke kota besar dan kemudian di suatu masa mereka pulang kampung.

Mudik dilakukan setelah atau menjelang Idul Fitri. Masyarakat Jawa biasa menyebut Idul Fitri dengan istilah “rioyo” atau “riyadhin”. Rioyo konon berasal dari kata “riya” (bahasa Arab yang bisa diterjemahkan sebagai “pamer”). Benar-tidaknya asal-usul kata “rioyo” itu, yang jelas Idul Fitri selalu diwarnai dengan kegiatan belanja baju baru, celana baru, sepeda motor baru, mengecat rumah agar terlihat baru, dan berbagai pernik lain yang baru yang menandai perayaan Idul Fitri.

Mudik Lebaran

Mudik bukan sekadar aktivitas masyarakat pulang kampung. Mudik umumnya dipahami dan ditempatkan dalam konteks perjalanan fisik seseorang untuk kembali pada akar kultural mereka. Mudik sering dipahami sebagai bentuk perjalanan dari kota besar atau megapolitan ke desa. Mudik adalah sebuah istilah yang dipahami dalam konteks terjadinya arus urbanisasi ke kota besar.

Sebuah keluarga yang pulang dari desa atau kecamatan lain, tapi masih dalam satu kota/kabupaten, tidak lazim disebut mudik. Mereka hanya disebut melakukan unjung-unjung. Istilah mudik lebih disematkan kepada kaum migran yang sudah bertahun-tahun mengadu nasib dan membangun karier di kota besar, lalu ketika hari raya tiba, mereka pun berbondong-bondong pulang kampung.

Di era global seperti sekarang, mudik bahkan bukan sekadar perjalanan pulang dari kota besar ke desa. Mudik dalam konteks masa kini bisa saja terjadi tatkala sebuah keluarga yang bekerja di luar negeri atau memang tinggal di luar negeri lalu pulang ke kampung halaman untuk menjenguk orang tua dan keluarganya. Tidak peduli berapa banyak dana yang dikeluarkan dan seberapa besar energi yang dipersiapkan untuk mudik, masyarakat yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung akan dengan senang hati melakukan perjalanan sepuluh jam lebih asalkan dapat berjumpa kembali dengan orang tua dan sanak-keluarganya.

Keasyikan dan makna mudik bukan sekadar pada kesempatan untuk melakukan silaturahmi dengan sanak-kerabat. Bertemu kembali dengan keluarga adalah sebuah ritual kultural yang sudah menjadi tradisi. Ada sesuatu yang hilang dan kurang ketika hari raya hanya diisi dengan kegiatan di rumah dan menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri hanya lewat telepon seluler atau media sosial.

Seberapa pun canggih perangkat teknologi informasi yang digunakan, hal itu tidak akan menggantikan makna mudik. Hakikat mudik adalah pada perjumpaan sosial secara tatap muka. Bertemu muka secara langsung dan bercengkerama bersama. Ini adalah hal-hal yang tidak diperoleh di momen lain. Ketika mudik, seseorang bukan hanya bahagia karena telah berjumpa dengan kerabatnya, tapi juga, yang tak kalah penting, berkesempatan untuk mendemonstrasikan kesuksesan dan kehidupan barunya.

Seluruh energi dan rasa capai di perjalanan yang panjang niscaya terbalaskan ketika mereka sampai ke kampung dan bernostalgia dengan semua kenangannya di masa lalu. Reuni dengan teman di masa kecil atau reuni dengan teman sekolah dasar dan menengah dulu adalah kegembiraan yang tidak tergambarkan betapa indah dan menyenangkannya.

Tampil dengan kondisi yang berbeda dengan masa lalu adalah kepuasan tersendiri yang tidak akan dapat digambarkan rasanya. Seseorang yang dulunya biasa-biasa saja, ketika pulang kampung telah menjelma sosok yang sukses. Mereka niscaya akan lega dan puas karena bisa membuktikan dirinya dengan baik. Hadir dengan status baru beserta segala simbol-simbol kesuksesan adalah hal yang tanpa sadar diharapkan kaum migran yang pulang ke kampung. Pulang dengan mobil baru, sepeda motor baru, baju baru, sepatu baru, dan lain sebagainya sering menjadi hal wajib karena dari situlah akan dapat dibaca siapa mereka saat ini.

Disparitas Wilayah

Memahami mengapa mudik selalu disambut antusias penduduk Indonesia, mau tidak mau harus ditempatkan dalam konteks disparitas desa-kota. Mudik dari kota besar atau megapolitan ke desa yang terpelosok niscaya akan lebih terasa pesonanya. Mudik dari kota menengah yang hanya berjarak puluhan kilometer pastilah auranya akan berbeda jika dibandingkan dengan mudik dari kota besar yang jaraknya ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Makin jauh jarak mudik, makin kuat daya tarik untuk pulang ke kampung.

Seorang migran yang berasal dari desa yang terpolarisasi dari kota besar tempat ia mengadu nasib, ketika pulang bukan hanya menjadi sosok simbolik keberhasilan dirinya menaklukkan kejamnya kota besar. Lebih dari itu, ia akan menjadi simbol kesuksesan yang bakal menarik sanak kerabat dan tetangganya di desa untuk menempuh hal yang sama.

Sebagian migran memang terkadang memaksakan diri untuk berutang atau menjual barang miliknya agar dapat pulang kampung dan memamerkan kesuksesannya. Tapi tak sedikit pula migran yang benar-benar berhasil. Anak muda yang berangkat dari kampung halaman sebagai orang biasa dan pulang sebagai orang yang sukses akan membuat arus balik lebaran lebih tinggi lagi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa migran yang sukses, ketika kembali ke kota besar setelah mudik Lebaran, akan membawa orang-orang dari desanya untuk turut mengadu nasib di kota besar. Kohesi sosial yang kuat di antara sesama migran menjadi penyangga yang memperkuat proses adaptasi dan mekanisme survival penduduk desa yang mengadu nasib di kota besar.

Pada tahun-tahun mendatang, arus mudik Lebaran bisa dipastikan akan makin besar. Sepanjang kota besar tumbuh makin gigantis dan desa makin terpinggirkan, sepanjang itu pula arus mudik akan tetap tinggi. Polarisasi antarwilayah yang makin lebar dan desa-desa yang mengalami proses marginalisasi niscaya akan menjadi konteks yang melatarbelakangi mengapa arus mudik selalu meningkat dari tahun ke tahun (Najmulmunir, 2006). Mudik bukanlah soal-politis, melainkan konsekuensi dari disparitas wilayah yang belum tertangani hingga saat ini. (*)

 

Bagong Suyanto, Dekan FISIP Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.