Wacana

Bisnis Pertunjukan, Industri Budaya Populer Global

DI tengah kesibukan masyarakat urban, kehadiran sejumlah aksi pertunjukan tampaknya menjadi oase tersendiri. Di kota-kota besar, khususnya Jakarta, sejumlah pertunjukan telah dan akan digelar sejak pemerintah melonggarkan pembatasan covid-19. Grup musik asal Yogyakarta, Sheila On 7, berencana akan menggelar aksi mereka pada 28 Januari 2023 nanti. Dilaporkan, tiket sebanyak 50 ribu yang ditawarkan pada tanggal 7 November 2022 lalu oleh panitia dengan harga Rp300 ribu ludes hanya dalam tempo kurang dari 30 menit.

Pola yang sama juga terjadi dalam aksi pertunjukan lain. Sejumlah grup band terkenal dan penyanyi papan atas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti Dewa 19, Weslife, On Republic, Blackpink, dll, telah memastikan agenda menggelar pertunjukan musik di Indonesia. Mereka semua menyadari bahwa Indonesia ialah salah satu pangsa pasar yang sangat besar dan senantiasa haus menyambut event-event pertunjukan budaya populer global yang menghibur.

Sebagai bagian dari industri budaya populer global, aksi panitia menggelar pertunjukan musik tentu bukan sekadar ingin menawarkan gaya hidup urban dan aktivitas pleasure. Namun, itu juga didorong motif untuk meraup keuntungan ekonomi. Dalam perkembangan masyarakat postmodern, menghadirkan sejumlah selebritas dan industri hiburan ialah hal yang tidak terhindarkan untuk memancing hasrat masyarakat menikmati budaya populer global. Bisnis pertunjukan merupakan komodifikasi gaya hidup yang seolah tidak pernah lekang oleh waktu.

Budaya populer global

Di era masyarakat digital, perkembangan subkultur anak muda urban memang tidak lagi bisa dibatasi ruang atau batas-batas administrasi wilayah, bahkan batas negara. Kehadiran industri media dan produk budaya populer global telah mendorong kelahiran subkultur anak muda yang sesuai dengan perkembangan zamannya.

Subkultur anak muda dalam masyarakat global itu muncul dalam kaitannya dengan perkembangan perusahaan multimedia dan munculnya ruang budaya anak muda yang bersifat transnasional. Sudah lazim terjadi, anak-anak urban di Indonesia ialah penggemar dari artis global. Mereka meruoakan kelompok penggemar yang tidak dikerangkeng semangat nasionalisme karena bagi mereka apa yang digemari tak lain ialah produk dan selebritas industri budaya global.

Kehadiran grup-grup musik yang terkenal dari mancanegara, penyanyi kelas dunia, semua telah memicu perkembangan budaya anak muda global yang sering kali bersifat sinkretis dan menunjukkan adanya budaya-budaya hibrida yang kreatif. Bentuk-bentuk budaya hibrida yang dikembangkan anak muda berakar dari hubungan-hubungan sosial sinkretisme yang mendorong terjadinya proses yang mengubah pemahaman diri anak muda sebagai bagian dari industri budaya yang lebih mengglobal.

Teknologi komunikasi telah ikut mengonstruksi berbagai komoditas, makna, dan identifikasi budaya anak muda yang sanggup melintas batas ras atau negara dan bangsa. Seperti yang dikatakan Redhead (1997), budaya anak muda telah ditandai dengan berakhirnya autentisitasnya karena subkultur anak muda sangat dipengaruhi dan dibentuk industri hiburan global yang mana budaya populer menjadi bagian integral di dalamnya.

Perubahan platform kapitalisme, dalam mengembangkan pasar dan keuntungannya, memang sangat terbuka sejak kehadiran teknologi digital, media konvergen, serta internet. Ruang web diciptakan dengan mudah dan tidak sebatas untuk memberi kesempatan konsumen menikmati berbagai produk budaya populer. Namun, juga memberikan peluang seluas-luasnya bagi penggemar untuk memproduksi dan menyebarkan bentuk-bentuk kreativitas mereka sendiri sekaligus untuk berkomunikasi dengan sesama penggemar.

Kapasitas teknologi baru yang memungkinkan antarpenggemar budaya populer melakukan aktivitas interaktif dan berpartisipasi dalam dunia virtual telah menyediakan ruang tersendiri bagi pembentukan identitas. Bahkan, dunia maya menjadi ruang untuk menampung segala aktivitas. Karena itu, cyberspace menjadi ruang yang sangat menentukan bagi kemungkinan-kemungkinan permainan konstruksi identitas (Barker, 2012).

Kahn dan Kellner (2008) menyatakan bahwa produk industri budaya global yang berkembang di kalangan warga urban merupakan bentuk kompleksitas budaya akibat proliferasi media dengan produk industri budaya populer dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti film, televisi, musik populer dengan difasilitasi internet.

Kehidupan anak muda yang tidak bisa lepas dari internet dan media sosial itulah yang menjadi pendorong pengembangan lebih lanjut di bawah kerangka kerja institusional dari ‘kabel’ dunia yang bersifat ‘desa global’ dan ‘mal global’. Berbagai industri budaya global yang mengembangkan website untuk anak muda telah menciptakan ‘peliharaan’ virtual yang senantiasa dirawat anak muda yang konsekuensi berikutnya telah memunculkan budaya anak muda online, global, hibrida, dan kompleks. Profil kultural anak muda seperti inilah yang kemudian dijadikan modal bagi para kapitalis untuk menggelar sekaligus mengeruk keuntungan dari acara-acara musik yang mereka gelar.

Efek samping

Pasang surut bisnis pertunjukan, sebagai bagian dari industri budaya popular global, ialah keberadaan penggemar. Berbeda dengan sekadar massa yang tidak memiliki ikatan loyalitas, penggemar (fandom) ialah kelompok masyarakat urban yang memiliki keterikatan, emosi, dan bahkan kecanduan untuk terus mengikuti perkembangan tokoh idola yang menjadi pujaannya.

Meski sempat meredup, kini bisnis pertunjukan kembali naik daun ketika pemerintah tidak lagi memberlakukan pembatasan mobilitas sosial masyarakat gara-gara pandemi covid-19. Bagi para pebisnis dunia hiburan, keputusan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial tentu menjanjikan harapan baru. Hingga tahun depan nanti, di tengah ancaman resesi global yang kini menghantui Indonesia, para pebisnis tampaknya tetap optimistis bahwa pertunjukan yang mereka gelar tetap akan berjalan sukses.

Dalam kondisi orang-orang yang lapar akan hiburan karena selama dua tahun terakhir vakum, kehadiran bisnis pertunjukan wajar jika disambut antusias berbagai kalangan. Masalahnya sekarang ialah tinggal bagaimana panitia mampu memastikan agar bisnis pertunjukan yang digelar tidak melahirkan efek samping yang merugikan perkembangan industri budaya populer global.

Belajar dari tragedi yang belakangan ini sempat terjadi dan menelan begitu banyak korban, seperti tragedi di Kanjuruhan Malang, Itaewon Korea Selatan, dan tempat-tempat yang lain, ke depan panitia diminta waspada. Penyelenggara bisnis budaya populer global seyogianya tidak hanya mengejar keuntungan secara membabi-buta, tetapi malah lupa menjaga keselamatan para penggemar yang sudah lama kecanduan penyanyi idolanya. Jangan sampai terjadi, maksud hati ingin mencari hiburan, tetapi justru malah petaka yang dialaminya. Perlindungan bagi penggemar mutlak dibutuhkan, selain kepentingan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. (*)

Rahma Sugihartati, Guru Besar Sains Informasi FISIP Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.