Wacana

Cuaca Rancu dan Badai Matahari

KERANCUAN cuaca dan iklim terus berlangsung. Selama dua tahun, terindikasi muka bumi yang dingin, terutama karena kawasan laut ekuator Samudra Pasifik mendingin, sering disebut sebagai gejala alam global La Nina.

La Nina berdampak surplus curah hujan. Bahkan, musim kemarau tahun lalu diwarnai giatnya hujan badai untuk pertama kalinya. Ini semua merupakan bagian dari kerancuan cuaca dan iklim yang masih berlangsung hingga saat ini.

Setelah memasuki pertengahan tahun di mana posisi garis edar matahari berada di belahan bumi utara, maka seharusnya kondisi udara sejuk digantikan oleh kondisi hangat yang berlangsung sejak awal April hingga akhir Mei 2023. Karena pada kenyataannya tidak demikian, tentunya semua ini merupakan rentetan kerancuan cuaca dan iklim bumi. Hal ini mengganggu analisis perkembangan cuaca dan iklim.

Tidak jadi El Nino

Banyak ahli cuaca dan iklim pada awal tahun memprakirakan gejala El Nino akan muncul. Di Indonesia pun, awal 2023, bergaung akan hadirnya gejala alam El Nino dengan ancaman musim kemarau kering dan memicu masalah kebakaran lahan dan hutan. Namun, prakiraan itu tidak menjadi kenyataan karena matahari sebagai sumber energi alam raya menggeliat dengan kegiatan yang berbeda dengan prakiraan para ahli matahari dari Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

Saat ini geliat kegiatan matahari cenderung berkembang cepat, khususnya kuantitas dan kualitas bintik, dengan ledakan meningkat tajam. Kenaikannya melebihi prakiraan kualitas dan kuantitas. Bahkan, secara kumulatif menunjukkan kualitas dan kuantitas lebih dari kondisi saat kegiatan naik siklus matahari nomor 24 atau siklus matahari periode 2009-2020.

Sepertinya perkembangan kegiatan matahari sejak awal 2022 sangat aktif. Geliat ini kian meningkat pada Maret dengan ledakan dan di medio April dengan peningkatan kualitas dan kuantitas bintik. Situasi luar biasa di alam raya inilah yang sepertinya telah menciptakan kerancuan cuaca dan iklim.

Aktivitas bintik dan ledakan memancarkan radiasi ke alam raya termasuk ke bumi. Penerimaan energi radiasi yang berkelebihan menciptakan kerancuan yang kini terjadi.

Geliat matahari yang luar biasa dan diikuti dengan ledakan di permukaan Matahari akan berlanjut dengan hadirnya badai matahari pada Maret hingga April 2023. Informasi ini dapat dilihat di blog NASA terkait pemantauan kondisi fisis matahari Maret 2023.

Badai di permukaan matahari mengubah kecenderungan gejala alam El Nino. Nilai Indeks Dipole Mode (IOD) bernilai positif mendekati 0, berarti suhu kawasan Samudra India di bagian barat Indonesia sama dengan kondisi bagian barat yang kini terpantau hangat.

Demikian juga kondisi perairan bagian tengah dan timur Indonesia yang seharusnya turun, meningkat seiring peningkatan pancaran radiasi matahari selama Maret-April.

Kondisi hangatnya suhu muka laut ini memberi kesempatan awan badai tetap giat, padahal seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Bencana hidrometeorologi basah dalam bentuk banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan petir perlu diwaspadai.

Situasi dan kejadian ini berkebalikan dengan gejala alam El Nino yang giat di Indonesia sejak 1982 hingga 2007. Gejala alam El Nino berdampak pada majunya awal musim kemarau dan keringnya sebagian besar kawasan Indonesia.

Namun, ada perubahan kegiatan El Nino tahun 2015-2016 dan 2018-2020 dibanding sebelumnya. Awal musim yang normal cenderung mundur dan curah hujan cenderung berkurang. Kini, akibat dari geliat matahari yang masuk kategori cepat, telah mengganggu perhitungan cuaca dan iklim.

Dampak merepotkan

Geliat matahari sejak awal tahun 2022 kian giat menjelang medio tahun 2023 memberi kerepotan berbagai pihak yang terkait dengan perhitungan kondisi alam, khususnya cuaca dan iklim. Kondisi suhu hangat yang semula diduga akibat dari gerak semu matahari masih berpengaruh normal di bulan April hingga akhir Mei 2023.

Pada kesempatan lain, seharusnya kondisi suhu muka laut dingin, tetapi suhu juga naik sehingga kesempatan penguapan muka laut ini telah menciptakan awan tipis dan terkadang awan tebal yang kemudian turun hujan.

Keberadaan awan tipis telah membuat radiasi balik dari permukaan tertahan dan kembali ke permukaan. Radiasi balik inilah yang menambah hangatnya suhu udara. Suhu hangat ini bertahan lebih lama akibat lemahnya angin musim atau angin muson timur yang seharusnya bertiup.

Kondisi dingin alami di bulan Mei sangat sulit kita alami sekarang dan mungkin masa mendatang. Dengan catatan bahwa geliat matahari kian naik kualitas dan kuantitas bintik, berikut ledakan di permukaan matahari. Menurut prakiraan sementara NASA, puncak kegiatan akan berlangsung hingga tahun 2025-2027.

Informasi tentang kondisi permukaan matahari sepertinya belum tersedia di Indonesia, kecuali di negara yang maju seperti AS dengan NASA-nya. Paling tidak kita bisa bersiap untuk menghindari sengatan langsung sinar surya secara langsung hingga geliatnya turun setelah 2027.

Semoga dengan secuil tulisan ini kita bisa terus mengamati dan mencermati kondisi alam sekitar kita. Geliat matahari yang naik menuju puncak kegiatan—tentunya dengan dampak kerancuan cuaca dan iklim—tidak bisa kita cegah dan halangi. Maka yang bisa kita lakukan adalah adaptasi atau penyelarasan diri.

Semoga situasi dan kondisi alam yang beragam dan berubah ini bisa diminimalisasi dampaknya dengan mitigasi bencana, perubahan pola tanam, dan penyesuaian segala aktivitas yang terkait. Tak lupa mohon perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa bagi keselamatan dan kelangsungan hidup umat manusia dan semua makhluk di bumi. (*)

 

Paulus Agus Winarso, Praktisi Cuaca, iklim dan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.