Wacana

Dampak El Nino pada Perikanan

FENOMENA El Nino, yang merupakan bagian dari perubahan iklim, telah berdampak global. Indonesia, yang berada di kawasan tropis dan menjadi perlintasan arus lintas Indonesia (Arlindo), akan terkena dampak yang signifikan.

Ada beberapa dampak penting dari El Nino di laut. Kenaikan suhu air laut akan berdampak pada kenaikan permukaan laut di wilayah pesisir. Hal itu akan mempengaruhi kesehatan ekosistem, termasuk lamun dan terumbu karang. Ia juga akan berdampak pada perubahan biodiversitas ikan dan stabilitas sosial-ekonomi masyarakat perikanan.

Kenaikan tinggi muka air laut akan mempengaruhi daratan pesisir. Percepatannya makin besar karena sebagian wilayah diperkirakan mengalami penurunan (subsidence) dan erosi yang berat. Menurut Lapan, selama 2015-2022, penurunan muka daratan pesisir di lima kota pesisir bervariasi. DKI Jakarta menurun 0,1-8 sentimeter per tahun, Kota Cirebon 0,28-4 cm per tahun, Pekalongan 2,1-11 cm per tahun, Semarang 0,9-6 cm per tahun, dan Surabaya 0,3-4,3 cm per tahun.

Seiring dengan ini, tercatat kejadian banjir rob terus meningkat setiap tahun. Pada Juli lalu, banjir rob di Banyuwangi merendam sekitar 160 rumah dengan tinggi muka air mencapai 40-70 cm. Kondisi ini menunjukkan bahwa rob tidak hanya terjadi di pantai utara Jawa, tapi juga di selatan Jawa. Dalam kaitannya dengan sektor perikanan, banjir rob pun mempengaruhi infrastruktur pelabuhan perikanan sehingga mempercepat kerusakan dan gangguan alur pergerakan nelayan.

El Nino juga berdampak pada kesehatan ekosistem terumbu karang, lamun, budi daya seaweed, dan budi daya laut. Fenomena pemutihan karang akibat terganggunya proses fotosintesis zooxanthellae dalam skala besar mempengaruhi produktivitas perikanan. Karang menjadi tidak produktif karena aktivitas produksi primer terganggu dan peran karang sebagai penyedia pangan bagi biota laut menjadi berkurang. Ini melahirkan keprihatinan terhadap kelestarian suplai makanan bagi ikan. Philip Munday, dari James Cook University, mengingatkan dalam artikel “Climate Change and Future for Coral Reef Fish” bahwa perubahan iklim, termasuk El Nino, akan berdampak terhadap produktivitas karang dalam mendukung kehidupan ikan karang.

Secara umum, biodiversitas ikan juga dapat terpengaruh. Riset Li et al. (2023) di Teluk Beibu, Cina, memperlihatkan perubahan biodiversitas ikan sebelum dan setelah kejadian ENSO. Perubahan salinitas dan suhu yang terjadi kemudian mempengaruhi usaha tangkapan per unit (CPUE) pada ikan pelagis, terutama ikan makerel Jepang dan basung (Japanese scad). Amor Damatac et al. (2016) menyampaikan, di Filipina, El Nino berdampak terhadap migrasi dan kematian ikan, kejadian penyakit pada seaweed, dan ancaman pada mamalia laut. Dalam riset yang saya lakukan pada perikanan di teluk Selat Sunda, jenis ikan yang tidak ditemukan bisa menjadi indikasi adanya spesies yang hilang atau bermigrasi, seperti gerong simba, kurisi Bali, dan pring. Situasi El Nino harus disikapi dengan sebuah strategi yang mengantisipasi perubahan stok ikan.

Situasi ini juga akan berdampak terhadap stabilitas ekonomi nelayan. Perubahan ekosistem, produktivitas ikan, biodiversitas, serta CPUE tentu berdampak pada pendapatan dan ekonomi masyarakat. Sebagai contoh, dampak El Nino pada 1997-1998 terhadap kegiatan perikanan purse seine di Taiwan telah menghilangkan pendapatan nelayan hingga US$ 6 juta selama lima bulan. Hal ini menjelaskan bahwa efek El Nino terhadap perikanan berskala kecil, yang dominan menangkap ikan pelagis, akan sangat besar.

Kenaikan muka air laut saat ini menjadi keseharian masyarakat pesisir yang dikenal sebagai banjir rob. Risiko kelangsungan hidup masyarakat pesisir terus meningkat. Pesisir Timbulsloko di Jawa Tengah menjadi saksi bahwa penurunan permukaan yang dibarengi rob akan menenggelamkan permukiman.

Ada beberapa adaptasi terhadap risiko rob, seperti memperkuat tanggul alami (hutan mangrove), membuat tanggul buatan, dan melakukan adaptasi permukiman. Upaya yang terakhir ini sebenarnya mensyaratkan perlunya kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mencari model perumahan yang adaptif di area rob.

Dilihat dari pola hubungan sosiologis dan ekonomis masyarakat pesisir, nelayan dan area mencari makan (menangkap dan budi daya) sangatlah dekat. Namun, untuk mengurangi risiko lain, seperti ketersediaan pangan dan kesehatan, upaya penataan perumahan di daerah rob harus segera dicarikan solusinya, sehingga nanti masyarakat lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan musim.

Adaptasi terhadap ekosistem terumbu karang hanya dapat dilakukan dengan memperkuat literasi masyarakat dalam melakukan pemantauan. Bila diperhatikan, pemutihan karang sebenarnya terjadi secara alami sehingga adaptasi yang dipilih adalah mengurangi risiko dengan memperkuat program pemantauan. Seiring dengan itu, secara bertahap diidentifikasi kedalaman yang berisiko rendah dan menyiapkan proses translokasi kedalaman terumbu karang atau membangun karang buatan pada kedalaman yang pengaruh Iklim dan perubahan suhunya rendah.

Antisipasi perubahan biodiversitas ikan memerlukan pengendalian penangkapan dan skenario pengelolaan berbasis musim. Skenario penutupan daerah perikanan ke depan perlu ditetapkan dengan mempertimbangkan musim, termasuk El Nino, dan jenis ikan sehingga data biodiversitas ikan menjadi basis dalam pengelolaan perikanan. Fenomena migrasi musiman dan kehadiran spesies invasif tidak sekadar mempengaruhi biodiversitas ikan, tapi juga stabilitas ikan terhadap ekosistem. Bisa saja muncul spesies baru, tapi ia bersifat predasi terhadap spesies lain. Adaptasi terhadap musim dan ekosistem dalam kaitannya dengan fenomena El Nino harus menjadi bagian dari perhatian pada pengelolaan perikanan.

Dalam mengurangi dampak sosial-ekonomi, langkah adaptasi yang diperlukan adalah mengatur pola penangkapan dengan memperhatikan pola iklim dan musim. Upaya lainnya adalah memberikan insentif berusaha dan mengurangi beban karena kebijakan yang makin menyulitkan nelayan mendapat penghasilan seperti saat ini. Cara lainnya, insentif untuk ekonomi selama musim El Nino dan dukungan kebutuhan pangan. Sejalan dengan ini, perlu pula mendorong masyarakat nelayan untuk menabung sebagai langkah mitigasi saat El Nino dan musim barat.

El Nino secara global berdampak terhadap perikanan sehingga tetap diperlukan upaya adaptasi agar sistem usaha perikanan di Indonesia tetap berjalan. Pemerintah harus hadir agar nelayan merasa ada yang mendampingi dan mengayomi di masa krisis ini. (*)

 

Yonvitner, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB University

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.