Wacana

Dinamika Tambrauw dan Potret Penafsiran Masa Depan Pembangunan di Daerah Pemekaran Baru

Judul buku      : Dinamika Tambrauw – Tinjauan Kritis Budaya, Agama, Trias Politica, dan Feminisme di Kabupaten Tambrauw.

Penulis            : Kristofel Maikel Ajoi, dkk.

Penyunting      : Sam Sirken

Penerbit           : Papua Cendekia

Cetakan           : 1, Juli 2021

Jumlah hlm     : xii + 258 hlm.

ISBN               : 978-623-90732-9-9

Pertama, saya ucapkan selamat kepada mereka yang berhasil menulis dan menerbitkan buku ini. Terima kasih kepada editor, Samuel Sirken yang pastinya menemukan kesalahan mayor yang wajar dimaklumi dari para penulis yang baru saja menemukan niat menulis. Saya ingin sampaikan bahwa, sungguh mati, ini buku bagus. Berani saya bilang begitu karena buku ini ditulis anak muda, mereka berani, kritis dan punya pengalaman hidup yang nyata, sudut pandangnya berbeda dan diinisiasi oleh mereka sendiri di masa ketika daya kritis publik kian hari makin menurun, tertahan dan mengalami kekaburan.

Buku ini berisi empat bagian yang diangkat dari judul lomba menulis. Pemuda Katolik Tambrauw, di bawah ketua Maria Lovernia Hay yang mengadakannya. Bukan kebetulan posisi ini membawa kesegaran bagi jalan pikiran dan terhadap diskursus pengetahuan dan pengalaman budaya. Bukan kebetulan karena Ley (sapaan akrabnya) pernah menulis tiga buku. Satu yang kita tahu adalah “Cinta di Pangkalan Jenderal Mc Arthur Sausapor”. (mungkin) karena pengalaman itu, ia menebarkan jala semangat menulisnya kepada yang lain dan akhirnya tiga kali lomba itu digelar mampu “menjala” 12 penulis. Kreasi ide tertuang dalam berbagai ulasan, dan di sana terpancar pengalaman menarik tentang makna hidup.

Orang akan tahu bahwa di Tambrauw ada lima suku, Abun, Mpur, Irires, Miyah dan Bikar. Mereka oleh intuisi (hikmat) menciptakan kebudayaan dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan masing-masing. Barangkali bisa disebut bahwa di sana ada orang yang mencari ikan di laut dengan perahu atau menyelam dan menangkap atau memanah ikan (molo), atau menangkap pada malam hari (balobe). Ada pula mereka yang menangkap ikan air tawar, meramu, bertani dan berburu. Dengan kebiasaan hidup begitu, mereka memiliki kepercayaan dan pola kosmologinya sendiri dan pada umumnya hampir mirip dengan suku-suku lain di Papua yang bisa kita tahu apabila membaca Jan Boelaars dalam bukunya “Manusia Irian: dahulu, sekarang, dan masa depan” (Boelaars, 1986). Barangkali juga masih bisa dibayangkan sesuai dengan apa yang diceritakan amtenar Belanda yang dulu bertugas di Papua pada buku “Belanda di Irian Jaya” (Pim Schoorl, 2001). Selain itu mereka membiasakan diri menjaga dan melestarikan hal-hal baik dari dalam rumah. Hal yang diperolehnya melalui suatu pelembagaan diri di dalam rumah adat. Mereka menyebutnya sebagai inisiasi yang selalu menghidupi kehidupan mereka dan bahkan menghiasi cerita anak anak muda sekarang agar mereka selalu dianggap sebagai orang dalam, orang asli yang sudah berakar dan tidak ketinggalan informasi sejarah kebudayaannya.

Budaya yang ketat dan dinamis itu perlahan demi perlahan “dipoles” oleh beberapa ritus peralihan hidup modern yang dibawa oleh Gereja Kristen (baik Katolik maupun Protestan). Perjalanan penyebaran agama dan budaya sekolah baru dari Eropa itu membawa arus perubahan besar yang menuntun orang di sini mengikuti kemajuan dunia. Pemerintah mengambil tempat pertama yang mempelopori masifnya gerakan perubahan. Abad XVIII (delapan belas) menandai era baru. Semua wilayah Tambrauw yang dalam satu paket dengan wilayah Kepala Burung Tanah Papua dibuka oleh Misionaris Kristen bersama pemerintah Belanda, dibantu oleh perusahaan-perusahaan kongsi mereka.

Sampai di sini saya masih memuji masyarakat asli di kelompok kebudayaan yang masuk dalam ulasan buku, termasuk para penginjil dan pemerintah kala itu, bahwa mereka mampu mendualisasi dua kebudayaan yang berbeda dan dihidupi bersama. Di sini adat dan agama yang berbeda tidak disamakan, atau tidak dihilangkan salah satunya, tidak juga dihindarkan, melainkan dipadukan dalam satu perjalanan pembangunan yang menelusuk kepribadian budaya masyarakat. Alhasil kepercayaan terhadap perubahan muncul. Orang di sini yakin bahwa teknologi dapat membawa kemujuran, uang bisa berdampak pada status sosial dan kepemimpinan selain kain timur dan babi, serta kain timur tidak hanya ditempatkan di rumah adat kepala-kepala suku atau pria berwibawa melainkan dapat dipakai sebagai taplak untuk mimbar atau altar Gereja. Bahkan adanya integrasi antara doa kepada roh leluhur dan doa di dalam keyakinan Kristen, juga kebiasaan minum alkohol yang buruk sekalipun dapat diubah dengan pola pengolahan pohon enau menjadi gula merah. Sayang sekali hal ini tidak banyak diulas oleh saudara-saudari penulis di artikel mereka. Saya kira itu juga dihambat oleh rentang waktu kehidupan mereka dengan tahun peristiwa yang juga dikarenakan kesulitan mengakses informasi sejarah mereka. Meskipun jelas di balik pemanfaatan instrument modernisasi itu, sebagian besar masyarakat tergerus arus ketertinggalan, tingkat ketergantungan terhadanya semakin tinggi dan memperdaya masyarakat, melemahkan instrumen kelembagaan adat, memecah-belah kekerabatan dan memutus jejaring komunikasi konstruktif yang sudah menyejarah.

Tetapi hal menarik lainnya juga masih mampu diinternalisasikan melalui refleksi pembanguan setelah pemekaran kebudayaan ini menjadi sebuah wilayah administratif (pemerintahan) pada tahun 2008 silam. Jalannya pemerintahan yang tidak seimbang antara diskursus pembangunan dan refleksi budaya membentuk pola-pola penataan kelembagaan dan pembangunan yang tidak sinkron dengan kebudayaan. Misalnya dua tulisan tentang DPRD yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan benar, fungsi kontrol-monitoring dan evaluasi tidak berjalan. Seringkali yang difokuskan hanya anggaran dan “kerja sama” antara DPRD dengan pemerintah daerah yang disebabkan karena ketidakmampuan penempatan posisi sebagai keluarga-kerabat dan aktor pemerintahan yang berbeda fungsi. Sebuah kasus menarik yang bisa disinggung lagi adalah ungkapan seorang anggota DPRD di kabupaten ini yang mengancam akan menggantikan kepala kampung (desa) apabila kepala kampung ini tidak mengindahkan atau berbeda pilihan atau barangkali pandangan politik. Ini manandai adanya kesemrawutan pemahaman terhadap fungsi legislatif dan bukannya fungsi eksekutif. Alhasil kasus-kasus di era tersebut sedikit mengalami gagal konsentrasi dan bias pembangunan. Satu hal yang bisa dipastikan adalah pencegahan dan penanganan Covid-19 yang memakan anggaran besar itu selalu dipertanyakan dan dijadikan bola liar oleh aktor-aktor ini sendiri. Bahkan dalam 11 tahun terakhir tidak ada anggota DPRD Tambrauw yang terlihat kritis, selalu berpikir, berdiskusi dan berbicara kritis untuk menemukan kebijakan bagi masyarakat. Ini dikarenakan para anggota dewan seringkali “dipangku” birokrat dalam berbagai kepentingannya.

Paling akhir sekali para perempuan yang menjadi simbol peradaban mampu merefleksikan nasib para perempuan dan para ibu yang kian hari selain menjadi obyek perkawinan, juga keberadaannya tidak dianggap sebagai eksistensi. Kini posisi mereka terancam oleh ancaman pembangunan bias gender dan dominasi patriarki yang tidak mampu diimbangi dengan penerimaan dan perubahan paradigma dan barangkali itu susah dilakukan oleh para perempuan dalam kebudayaan seperti ini.

Sampai di sini, bagi saya buku ini menggambarkan apa yang disampaikan oleh Pierre Bourdieu bahwa pembangunan itu bersifat utuh dan menyeluruh, mengandung unsur dualitas (bukan dualisme) maka akan membiasakan manusia dan kebudayaannya membentuk pola-pola hidup di dalam konteks perubahan yang dialami supaya mereka tidak mengalami apa yang disebut Bourdieu dengan hysteresis (watak retak) atau istilah yang banyak muncul di buku ini degradasi kebudayaan. Pembangunan tidak bisa dihindari apalagi ditolak melainkan dihidupi dan dimaknai secara kritis.

Buku ini akan sangat membantu kita memahami hal tersebut, karena itulah potret globalisasi, modernisasi serta perubahan yang terjadi di berbagai belahan dunia, seperti juga di Tambrauw yang diceritakan di buku ini. Terlepas dari berbagai hal yang akan kita temukan di buku ini, saya ingin sampaikan bahwa bagi saya tulisan yang paling sempurna adalah tulisan yang selesai ditulis.

 

Maikel Ajoi, Bibliophile.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.