Wacana

Elegi Kanjuruhan

MARI kita menempatkan diri pada posisi para anggota keluarga dari 131 saudara kita yang meninggal dalam tragedi Kanjuruhan. Bila Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Mochamad Iriawan, yang biasa disapa Iwan Bule, benar-benar memahami perasaan pedih akibat kehilangan yang dialami oleh keluarga korban, ia akan memilih mundur dan tak sekadar menimpakan kesalahan kepada panitia penyelenggara.

“Ketidakpernahan (the neverness),” kata Nicholas Wolterstorff, filsuf dari Yale University, Amerika Serikat, dalam Lament for A Son (1987), “itulah yang terasa begitu menyakitkan.” Wolterstorff merasakan kepedihan itu setelah putranya, Eric, wafat akibat kecelakaan dalam suatu pendakian gunung di Austria.

Kepedihan serupa juga dialami oleh orang tua dan sanak saudara para suporter yang meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ibu dari seorang anak muda yang meninggal, misalnya, tidak pernah lagi menyajikan nasi pecel kesukaan putranya sebelum berangkat ke sekolah atau ke tempat kerja. Ayahnya tidak pernah lagi bertanya jam berapa putranya akan kembali dari stadion setelah menyaksikan pertandingan sepak bola tim kesayangannya.

Karena itu, bagi saya, kedukaan tidak hanya dialami oleh keluarga saat jenazah masih berada di rumah duka. Kedukaan juga dialami terlebih setelah jenazah dikebumikan. Sejak saat itu, ketidakpernahan tersebut terus-menerus hadir dan amat menyakitkan hati.

Kehadiran sanak saudara dan handai tolan pada galibnya menyejukkan hati keluarga yang berduka. Mereka melayat dengan membawa serta kata-kata pujian seraya menjunjung mendiang: “Ia baik”, “Ia penuh perhatian”, “Ia sering membantu”. Namun, sebagaimana dikeluhkan Wolterstorff, “Setiap kata pujian bagaikan sebuah tikaman terhadap rasa kehilangan saya.” Kehilangan orang yang baik memang amat menyakitkan.

Kehilangan yang menyakitkan ini digambarkan oleh Iyowb, seorang ayah yang hidup di Tanah Us ribuan tahun silam, dalam bentuk perbandingan antara manusia dan pohon. Sepuluh anaknya meninggal akibat bencana alam. “Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh… Tapi, apabila manusia mati, tidak berdayalah ia. Bila orang binasa, di manakah ia?” dia meratap. “Ia tidak kembali lagi ke rumahnya dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.”

Kepedihan akibat kehilangan orang-orang tercinta yang meninggal lebih dulu menjadi lebih pahit karena sebuah fakta yang sulit kita pahami: para orang tualah yang justru memakamkan anak-anaknya. Seharusnya, anak-anak mereka yang mengusung jasad orang tua ke tempat peristirahatan terakhir. Namun mengapa anak-anak muda, yang masih memiliki masa depan, harus berpulang lebih dulu?

Skenario pahit ini seharusnya menjadi kumpulan adegan yang berkejar-kejaran dalam pikiran para petugas kepolisian atau suporter sepak bola. Imajinasi ini merupakan salah satu kekuatan yang sanggup menolong kita untuk menjauhkan orang lain dari penderitaan dan kematian.

Bayangan atas penderitaan yang akan menyengsarakan, baik calon korban maupun calon keluarga korban, akan menumbuhkan perasaan simpati dan empati. Perasaan-perasaan demikian akan merangsang aparat kepolisian, misalnya, untuk berhitung dengan cermat sebelum mengambil tindakan represif dan koersif (baca: menembakkan gas air mata) saat menghadapi kelompok suporter.

Aparat kepolisian di satu sisi dan para suporter di sisi lain sedianya senantiasa menimang-nimang ujaran faktual dibalut kepedihan yang diucapkan oleh Wolterstorff: “Sedikit saja salah langkah, maka yang tinggal hanyalah ketiadaan abadi.”

Upaya-upaya yang dilakukan aparat penegak hukum dalam mengusut kasus kerusuhan di Kanjuruhan secara adil dan transparan, juga evaluasi serta perbaikan fundamental dan menyeluruh yang dilakukan PSSI serta pihak terkait terhadap infrastruktur dan penyelenggaraan pertandingan sepak bola tidak dapat menghidupkan kembali mereka yang telah wafat. Namun upaya-upaya semacam itu diharapkan dapat memberikan sedikit kelegaan bagi keluarga korban. Apalagi bila sang jenderal polisi, yang duduk di pucuk pimpinan organisasi induk sepak bola, secara kesatria memilih mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moralnya. (*)

 

Antonius Steven Un, Doktor Filsafat Sosial-Politik dari Vrije Universiteit, Amsterdam.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.