Wacana

Gelembung Starup Meletus

MAJALAH The Economist edisi 14 Mei 2022 menulis bahwa saat ini gelembung teknologi telah meletus di mana tanda-tandanya telah terlihat jelas di banyak tempat, yang ditandai dengan kejatuhan masif atas harga semua aset di sektor teknologi mulai dari saham-saham teknologi (Tech Shares), IPO startup, Special Purposes Acquisition Company (SPAC) yang banyak digunakan untuk backdoor IPO startup dan bahkan sampai ke crypto currencies.

Kejatuhan masif ini dapat terlihat antara lain dari indeks saham NASDAQ yang tech heavy yang turun lebih dari 31 persen dibandingkan dengan rekor tertingginya di November 2021. Di samping itu perusahaan teknologi besar dalam kelompok FAANG pun juga terjun bebas harga sahamnya di mana masing-masing mengalami penurunan sebesar 71% (Netflix), 23% (Apple), 24,8% Alphabet dan 52% (Meta) di sepanjang tahun ini. Selain itu, crypto currency terbesar Bitcoin pun tidak luput dari gelombang besar yang menenggelamkan harga semua aset teknologi ini.

Sementara di Indonesia tren tertekannya harga aset teknologi juga terjadi seperti bisa dilihat dari saham GOTO dan BUKA (Bukalapak) yang masih harus berjuang keras untuk sekadar kembali ke level harga IPO dan saham ARTOS (Bank Jago) yang telah tergerus sebesar 43,7% sepanjang tahun ini. Kejatuhan masif atas harga aset teknologi itu pun kemudian dengan cepat memicu reaksi berantai berikutnya berupa melambatnya aliran dana venture capital kepada startup dalam semua tahapan pengembangan.

Venture capital besar dengan long success story dan memiliki ratusan portolio company seperti Softbank, Sequoia dan Y Combinator secara drastis memotong komitmen pendanaan yang sebelumnya telah disiapkan untuk portfolio company-nya dan memberlakukan kriteria yang lebih ketat untuk pencairannya. Dari sisi jumlah komitmen pendanaan di tahun ini, Softbank akan memotong 50 persen sampai 75 persen dari investasi yang dilakukan di tahun 2021.

Sementara dikutip dari crunchbase.com, di bulan May 2022 global venture funding telah turun menjadi US$39 miliar yang merupakan jumlah pendanaan bulanan terendah sejak lebih dari 12 bulan terakhir, apalagi jika dibandingkan dengan rekor tertinggi US$70 miliar di bulan November 2021. Dan seterusnya reaksi berantai pun berlanjut dengan mulai terjadinya PHK atas pekerja startup diseluruh dunia. Situs layoffs.fyi mencatat bahwa telah terjadi PHK atas 145.995 pekerja startup sejak awal pandemi Covid-19 di mana dari jumlah tersebut sebanyak 50.023 di antaranya atau 34 persen dari jumlah total terjadi di tahun 2022.

Selanjutnya setelah tanda-tanda meletusnya gelembung teknologi ini telah jelas terlihat melalui fenomena kejatuhan harga aset teknologi dan gelombang PHK startup, maka kekhawatiran yang muncul kemudian adalah apakah akan berulang dotcom burst di tahun 2000 ketika hampir semua dotcom company berhenti beroperasi dengan meninggalkan saham yang nilainya mendekati titik nadir, pekerja yang kehilangan pekerjaan, serta investor yang kehilangan investasinya.

Bisa jadi, bukan itu yang akan terjadi, karena bagaimanapun tahun 2022 adalah sangat berbeda dengan tahun 2000, dilihat dari sisi fundamental industri teknologi sekaligus ekosistemnya.

Perbedaan itu bisa dilihat pertama dari model bisnis startup saat ini yang berjalan di atas teknologi yang telah proven sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan produk yang berguna untuk pengguna sekaligus mendatangkan revenue dan tidak hanya berupa dotcom company dengan rencana bisnis tetapi tanpa revenue seperti ditahun 2000.

Sementara perbedaan kedua dari sisi keberadaan ekosistem teknologi berupa jaringan internet user yang memungkinkan startup untuk eksis dan berkembang di mana pada saat ini terdapat 5 miliar pengguna internet world wide atau 63 persen dari populasi dunia dibandingkan 6,7 persen populasi dunia di tahun 2000.

Pada akhirnya kemudian meletusnya gelembung teknologi ini walaupun tidak akan menenggelamkan semua startup yang ada saat ini, tetapi sudah pasti akan mengubah secara drastis semesta startup. Akan ada banyak startup yang kehabisan sumber dana untuk meneruskan keberlangsungannya, terutama startup dengan burn rate yang tinggi dan road to profitable yang masih samar.

Selanjutnya yang tersisa adalah startup juara dengan burn rate yang justified dan road to profitable yang jelas dan terukur. Setelah itu akan terjadi great reset dalam valuasi startup yang akan membuat valuasinya menjadi lebih konservatif sementara kehilangan nilai yang telah terjadi akibat jatuhnya harga aset-aset teknologi tidak akan kembali sebagian besarnya sehingga merugikan investor. Investor akan kehilangan investasinya di dalam startup, di mana investor publik akan terdampak lebih awal dan lebih besar dibandingkan investor institusi.

Startup akan lebih efisien dalam burn rate dan lebih disiplin dalam time table pengembangannya. Venture capital akan lebih membumi valuasinya dan lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan kembali kepada startup sementara investor akan lebih bearish dan less excited dalam melihat saham-saham startup.

Satu hal yang hampir pasti kemudian, selepas technology burst ini, akan muncul startup juara dengan model bisnis dan postur finansial yang solid layaknya startup yang selamat dari dotcom burst dan kemudian lama bertahan seperti Amazon, Adobe dan Oracle. (*)

 

Iwan Soemekto, Kepala Divisi Badan Penyehatan Perbankan Nasional 1999-2003.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.