Wacana

Indonesia dan Badai Panjang

SUDAH begitu lama negara Barat dan negara maju hidup dengan tingkat inflasi dan suku bunga rendah. Itulah yang membuat investasi begitu marak terjadi, bahkan sampai ke seluruh dunia, dan pertumbuhan ekonomi pun terdorong naik. Angka pengangguran otomatis menurun dan tingkat kesejahteraan rakyat meningkat.

Pandemi Covid-19 yang mendisrupsi rantai pasok global perlahan-lahan mengerek tingkat inflasi. Terganggunya pasokan membuat harga-harga barang bergerak naik sejak awal 2020. Perang di Ukraina yang terjadi pada 24 Februari 2022 membuat keadaan kian memburuk.

Terganggunya pasokan energi membuat harga minyak dunia meningkat sampai 100 dollar AS per barel. Terhentinya ekspor gandum dari Ukraina membuat krisis pangan terjadi di banyak negara. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim ekstrem. Di California, tiba-tiba hutan bisa terbakar karena musim kering yang luar biasa.

Sungai Yangtze di China bisa sampai kering dan dasar sungainya bisa dipakai orang berjalan-jalan. Di Pakistan, banjir besar membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal dan tanaman pertanian rusak.

Untuk pertama kalinya dunia dihadapkan pada persoalan yang datang berbarengan. Belum lagi ketegangan yang semakin memuncak antara AS dan China yang menimbulkan ketidakpastian. Menteri Senior Singapura Tharman Shanmugaratnam menyebut situasi yang dihadapi dunia sekarang ini sebagai perfect long storm. Kalau tak pandai-pandai untuk menanganinya akan membawa dunia ke jurang keterpurukan.

Semua negara harus mulai menyadari, era inflasi dan suku bunga rendah sudah berakhir.

AS yang dihadapkan pada inflasi mendekati 9 persen mengambil kebijakan menaikkan bunga. Bahkan, kenaikannya, Kamis (22/9/ 2022), tak tanggung-tanggung, 75 basis poin (bps), untuk mencapai Fed Fund Range Target 3,00-3,25 persen.

Federal Reserve (Fed) dalam pertemuan terakhir menyampaikan, pihaknya tak akan ragu menaikkan lagi tingkat suku bunga guna menurunkan inflasi di AS hingga 2 persen. Tahun ini Fed berpotensi menaikkan lagi suku bunga sebesar 100 bps dan 2023 sebesar 25 bps. Baru pada 2024 dan 2025 suku bunga akan diturunkan kembali jika target inflasi 2 persen tercapai.

Dalam ekonomi yang saling tergantung dan berhubungan, tak mungkin negara lain tak ikut menaikkan suku bunganya. Keputusan BI menaikkan BI Rate 50 bps merupakan keputusan yang wajar untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah. Ekspektasi pasar yang menunggu besaran tingkat kenaikan bunga yang diumumkan Fed sempat membuat rupiah tembus Rp 15.000 per dollar AS.

Bank Dunia ataupun Dana Moneter Internasional seharusnya mencegah jangan sampai terjadi perang suku bunga yang memorakporandakan ekonomi dunia. Namun, era multilateralisme yang sudah berjalan lebih dari 75 tahun mulai surut perannya sehingga sulit bagi kedua lembaga ini untuk mengingatkan setiap negara agar tidak mencari selamat sendiri.

Kolaborasi dan inovasi

Saat memberikan leadership lecture di Singapore Management University, Kamis (22/9/2022), Shanmugaratnam mengingatkan, di tengah pesimisme, kita harus tetap membangun optimisme.

Kenyataannya, masih banyak hal yang pantas membuat kita optimistis. Ia, misalnya, menyebutkan kesigapan lembaga riset, Blue Lab, menemukan vaksin yang siap dipakai dalam menghadapi pandemi baru yang diperkirakan datang lebih awal.

Kemampuan setiap negara untuk melakukan investasi di bidang SDM jadi sangat penting. Semua harus bisa menghindar masuk perangkap learning poverty, yakni kondisi di mana rakyat sebuah negara tak mampu membiayai anak-anaknya untuk belajar di sekolah.

Kenyataannya, sekitar 50 persen negara di dunia dihadapkan pada learning poverty. Ini sangat membahayakan masa depan dunia karena akan menciptakan kebodohan sistemik, padahal kita sedang berada di era yang penuh dengan kesempatan.

Investasi manusia akan menentukan sebuah negara untuk bisa melakukan berbagai inovasi. Di tengah situasi perfect long storm seperti sekarang, hanya bangsa yang mampu melakukan inovasi yang bisa keluar dari kesulitan.

Tentu yang tak kalah penting adalah kolaborasi. Seperti era inflasi dan suku bunga tinggi sekarang ini, dibutuhkan kerja sama di antara negara-negara di dunia. Sikap egois akan membuyarkan semua upaya keluar dari kondisi perfect long storm.

Kolaborasi juga dibutuhkan untuk menyelesaikan keterbatasan energi dan juga pangan. Tharman melihat rendahnya investasi, baik untuk eksplorasi energi fosil maupun pengembangan energi terbarukan.

Akan panjang

Situasi yang terjadi sekarang ini jadi riskan karena penyelesaiannya tak mungkin berlangsung cepat. Perfect storm ini akan berlangsung lama karena dibutuhkan waktu untuk mencapai titik ekuilibrium baru.

Penurunan harga minyak dunia tak mungkin terjadi tanpa ada tambahan pasokan ke pasar. Kalaupun investasi di sektor migas mau dilakukan sekarang, butuh waktu minimal 10 tahun untuk bisa mulai menghasilkan. Apalagi bicara soal penemuan energi terbarukan. Butuh waktu lebih lama untuk mencapai harga keekonomian yang bisa dijangkau masyarakat.

Hal yang sama dihadapi dalam penyelesaian krisis pangan. Penambahan pasokan pangan dunia tak cukup dilakukan dengan menambah luasan lahan. Namun, ini berkaitan dengan lokasi yang cocok bagi tumbuhnya tanaman pangan yang dibutuhkan, teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas, serta ketersediaan pupuk untuk menjaga kesuburan lahan.

Semua persoalan ini tak bisa diselesaikan hanya dengan mengeluh, apalagi marah-marah. Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang hanya tinggal satu setengah tahun sebenarnya bisa memilih untuk tak menaikkan harga BBM.

Namun, celakalah negeri ini kalau pemimpinnya hanya sekadar mencari popularitas. Di tengah harga minyak yang membubung tinggi, penerapan kebijakan harga BBM murah akan melambungkan angka subsidi. Ketika anggaran negara habis dipakai untuk subsidi BBM, banyak kepentingan lain berkaitan dengan kesejahteraan rakyat akan dikorbankan.

Kalau pilihan itu yang kita ambil, situasinya justru akan dimanfaatkan para spekulan. Termasuk pemain pasar uang yang sedang mencari kesempatan mengeruk keuntungan di tengah kesempitan. Nilai tukar rupiah pasti akan terdepresiasi karena para spekulan tahu anggaran negara tak mungkin mampu terus menopang kenaikan angka subsidi.

Ketika nilai tukar rupiah tertekan, inflasi akan ikut terkerek naik, terutama untuk barang konsumsi yang masih banyak harus kita impor. (*)

 

Suryopratomo, Duta Besar RI untuk Singapura.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.