Wacana

Jahit Kebaikan Antar Zaman, Kunci Kualitas Pendidikan Indonesia

Ambo aja tamangingi, Matuntut Karidecenge.

ADALAH penggalan lagu yang selalu dinyanyikan anak-anak SD di Cabenge, desa di Sulawesi Selatan tahun 1960an yang lalu, sebelum menyanyikan lagu wajib dan mulai belajar. Yang berarti jangan jenuh dalam kebaikan (menuntut ilmu). Lagu yang setiap hari dinyanyikan dan dipimpin oleh kepala sekolah itu masih terngiang dalam ingatan ibu saya yang kini sudah berusia 73 tahun. Apa yang teringat pastilah sungguh berkesan. Tidak hanya itu, diceritakan pula bantuan pemerintah berupa papan tulis hitam, dan pena berbahan seperti semen bagi murid-murid, dan kalam dan tinta untuk menulis indah di buku tulis bergaris. Pena semen yang ditajamkan di tembok depan gerbang sekolah di sela-sela obrolan tentang pelajaran atau topik lainnya. Penghapus papan tulis kecil pun hanya menggunakan daun bambu.

Terngiang pula oleh ibu saya, banyak murid-murid yang harus mengasah pena semen hingga di kolong jembatan sekolah. Murid menulis dengan pena semen dalam pelajaran menulis dan berhitung. Guru akan memberi nilai dengan kapur tulis di papan hitam mereka. Jika mendapat nilai tertinggi 10 dari guru, langsung akan ditempelkan ke pipi mereka yang tak sabar dipamerkan kepada orang tua atau siapapun yang dijumpai. Pemerintah kala itu hanya memberikan papan hitam, pena semen, kalam dan tinta tetapi pribadi tangguh, daya ingat yang tajam, cerdas, dengan tulisan sambung nan indah, yang akan berdiri tegak di atas becak saat dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lahir dari pola pendidikan kala itu.

Itu di desa kecil di Sulawesi Selatan. Di tahun 40-an,di tanah Jawa, almarhum ayah saya yang kelahiran 1939 bercerita bahwa anak-anak SD kala itu juga mendapat bantuan pemerintah berupa pensil. Pensil baru bisa mereka peroleh dengan menunjukkan sisa pensil atau pensil yang sudah pendek untuk kemudian ditukar dengan pensil baru.

Bagaimana pendidikan dalam ingatan saya pun tidak jauh. Yang berkesan adalah, bagaimana wali kelas membuatkan piagam penghargaan setiap catur wulan bagi murid-muridnya yang meraih peringkat tiga besar. Sampai sekarang saya tidak pernah lupa bagaimana memancing cacing pita untuk ke luar dari tubuh manusia yang disampaikan pada pelajaran IPA dan sejumlah topik lain dalam buku-buku terbitan Balai Pustaka. Di tahun 70-an saat SD itu saya pun masih belajar tulisan indah meski tak seindah tulisan indah ayah dan ibu saya.

Jika pola pendidikan kita buruk, tidak mungkin, di tahun 1945 kaum muda mendorong kaum tua (Soekarno-Hatta, dkk) untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa. Mampu melihat peluang di mana Jepang hilang fokus karena pengeboman Hiroshima-Nagasaki oleh sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari, kaum muda Indonesia bergerak. Bagaimana perangkat suatu negara seperti bendera, lagu kebangsaan, serta dasar negara siap dalam waktu singkat, jika tidak lahir dari pribadi-pribadi yang visioner dan memang siap dengan perubahan. Deretan nama-nama pejuang bangsa jika dipelajari lebih mendalam, meski ada yang menuntut ilmu di negeri orang, tetapi kecintaannya kepada bangsa Indonesia melahirkan pemikiran-pemikiran kebaharuan, termasuk Ki Hajar Dewantara yang merupakan keluarga ningrat bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

RM Soewardi Soerjaningrat melepas gelar kebangsawanannya di usia 40 tahun dengan alasan ingin dekat dengan rakyat sebelum dijadikan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama RI di tahun 1945 menjadi Ki Hajar Dewantara. Semboyan, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani harus diakui tidak lekang oleh waktu, masih relevan hingga saat ini, menjadi teladan bagi para guru sepanjang masa.

Semangat ini yang saya lihat dihidupkan kembali pada jiwa-jiwa Guru Penggerak di era Mendikbudriset-dikti Nadiem Makarim saat ini. Istilah menghamba pada murid (child centered) dan pembelajaran berdiferensiasi adalah beberapa hal upaya merepresentasi terhadap ajaran Ki Hajar Dewantara di era sekarang. Kita semua diajak menengok ke belakang, menghargai sejarah, untuk selanjutnya menerjemahkannya sesuai dunia nyata saat ini.

Dari tulisan di atas, ada enam pemeran utama yang membentuk pola pendidikan kita, yakni: pemerintah, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua dan masyarakat. Kebijakan dan bantuan pemerintah yang tepat sasaran, dijabarkan secara cerdas oleh kepala sekolah dan guru, lalu kemudian diterima dan dilaksanakan penuh khidmat oleh siswa, niscaya akan melahirkan produk pendidikan yang dibutuhkan sesuai zamannya.

Bantuan pemerintah dari dulu hingga sekarang selalu ada, tidak hanya batu tulis dan tinta sebagaimana dikisahkan di awal. Di era teknologi, bantuan pemerintah tidak kecil. Ratusan hingga ribuan sekolah mendapatkan komputer, laptop, tablet, atau crome book. Harapannya tentu saja mendorong digitalisasi sekolah. Namun, saat tahun 2020 sebagai fasilitator daerah Program Organisasi Penggerak (POP) Ikatan Guru Indonesia (IGI) dengan wilayah tugas di Kabupaten Tambrauw, ada sekolah yang melaporkan terkait bantuan pemerintah BOS Afirmasi/Kinerja yang berupa crome book hanya dibiarkan saja. Alasannya mungkin ketersediaan listrik yang memang hanya menyala di siang hari, SDM, atau hal lain. Atas dasar laporan ini kemudian disambut oleh IGI Kabupaten Tambrauw dan Dinas Pendidikan Tambrauw untuk memberikan pelatihan-pelatihan, juga untuk kebutuhan lainnya.

Selanjutnya saat berkunjung ke sekolah model, fasilitas perpustakaan saya temukan juga masih minim. Namun, saat simulasi mengajar, guru dan para siswa menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Kosa katanya, attitudenya, tulisan tangan para siswa cukup rapih. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah-sekolah di Papua Barat mungkin tidak semua sebagaimana yang ditemukan di Kabupaten Tambrauw, namun kondisi di atas dapat dijadikan renungan terkait tujuan pendidikan yang diharapkan.

Terlintas dalam pikiran saya, apakah jenis dan jumlah bantuan pemerintah, serta hubungan sinergi warga sekolah dan stake holders, dapat melahirkan Ki Hajar Dewantara-Ki Hajar Dewantara versi milenial? Yang solutif, problem solver sekaligus berjiwa nasionalis? Yang rela mengorbankan dirinya demi kebaikan bangsa dan negaranya? Yang berpikir futuristik namun secara paralel dapat bertindak taktis dan kritis? Menurut saya, harapan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran kepada murid-muridnya untuk tak jenuh dalam belajar sebagaimana alunan lagu Ambo aja tamangingi, Matuntut Karidecenge di atas adalah contoh kebaikan di suatu desa, di suatu daerah, di eranya. Bayangkan, jika setiap generasi menyumbangkan kebaikannya, dilanjutkan dan dijahit dengan kebaikan yang terbarukan, maka apa yang tak bisa, bukan? Pendidikan Indonesia akan merupakan sebuah rangkaian pendidikan terbaik di eranya masing-masing. (*)

 

Chandra Sri Ubayanti, M.Pd. Guru SMA Negeri 1 Fakfak Papua Barat

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.