Wacana

Menyikapi Tren AI dalam Dunia Pendidikan dan Riset

TREN penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merebak begitu pesat. Sebetulnya ChatGPT bukanlah satu-satunya AI yang dapat dipergunakan untuk membuat, menyintesis, dan memeriksa karya tulisan. Terdapat perangkat lunak (software) lain, seperti BERT, RoBERTa, dan XLNet. Ini artinya, fenomena kemunculan AI ini tidak terbendung.

Sejumlah kalangan mendukung perkembangan teknologi karena dapat membantu manusia. Sementara banyak sekali kekhawatiran beredar terkait isu kejujuran dan etika pembelajaran yang berpotensi terlanggar. Kemajuan teknologi merupakan refleksi meningkatnya kecerdasan manusia dalam mengelola sumber daya secara cepat dan pesat. Namun, apakah ini tepat?

Menariknya, menurut penelusuran yang dilakukan dengan software publish or perish, selama kurun waktu satu tahun, terdapat 146 penelitian ilmiah yang membahas topik ChatGPT dalam konteks pendidikan. Lebih dari 200 artikel ilmiah tentang BERT dan RoBERTa dalam 1 tahun terakhir.

Artinya, fenomena ini adalah buah wajar dari era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Tanggapan akademisi semestinya responsif dan adaptif. Namun sayangnya, di negara kita belum ada satu pun penelitian ilmiah yang mengupas hal ini. Pembahasan efek software ini pada pendidikan hanya sebatas obrolan santai di warung kopi. Sebatas guyonan di grup Whatsapp.

Perbincangan tentang pro dan kontra ChatGPT dalam dunia pendidikan adalah topik yang seru dan variatif. Pendidik dari kalangan baby boomers (mereka yang lahir sebelum 1980) banyak yang menolak dan mempertanyakan. Jangankan mendeteksi apakah mahasiswa memakai software ini untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, pendidik yang resisten ini enggan mencari tahu cara memakainya.

Sementara itu, pendidik dari kalangan milenial (lahir pada 1980 hingga 2000) bisa jadi netral dan justru terinspirasi untuk memanfaatkan peluang. Bagaimana tidak? Software ini dapat membantu peneliti menulis karya, tanpa repot mengonstruksi tatanan kalimat dan paragrafnya. Para milenial tengah berada dalam usia produktif dengan bekal keilmuan yang cukup mumpuni untuk mengendalikan ChatGPT. Lalu, bagaimana dengan murid yang secara pengetahuan dan usia masih dalam proses pertumbuhan?

”Open mind” adalah kunci

Pendidik tidak dapat menolak perubahan, satu-satunya opsi adalah mengendalikan supaya tidak dikendalikan. Para pendidik harus mau membuka mata dan menerima ini, kemudian memikirkan solusi. Sederet software pendeteksi karya AI dapat dipelajari dan dipergunakan, seperti GPT Zero, CAS, Copyleaks, Originality.AI, Kazan SEO, CrossPlag, dan sederat pendeteksi AI lainnya.

Alat deteksi tulisan hasil ChatGPT ini tentu memiliki fitur kelebihan dan kekurangan masing-masing. Wajib bagi pendidik di era VUCA ini untuk terbuka dan mau mempelajari hal baru sehingga tidak dibodohi oleh murid dan alat.

Penjelasan etika dan ilmiah

Merujuk kepada pedoman target pembelajaran, sejatinya proses belajar tidak hanya perihal pengetahuan. Proses belajar ini melatih softskill seperti kejujuran dan etika. Namun, bukan pula salah murid apabila mereka tergoda untuk memakai software yang mempersingkat waktu pengerjaan tugas. Secara alamiah, manusia memiliki insting untuk berusaha mencari kenyamanan. Mempergunakan software di tengah banyaknya tugas yang diberikan adalah salah satu cara mencari kenyamanan.

Pendidik perlu memahami sisi psikologis anak didik. Pendidik dapat menjelaskan dengan sabar, mengapa penggunaan software AI belum boleh dilakukan. ChatGPT dapat memicu kemalasan sehingga memperlamban perkembangan otak.

Sementara itu, tugas menulis fungsinya untuk melatih dan menyambung neuron-neuron dalam otak melalui pemrosesan kata dan kalimat dari bacaan. Penggunaan software hanya akan membuat otak semakin pasif. Penjelasan etika dapat disertai dengan hal ilmiah karena manusia di usia pembelajaran biasanya belum memiliki kesiapan untuk menerima nasihat.

Mengendalikan teknologi

Sejumlah riset secara menarik mengungkapkan bahwa BERT dan RoBERTa dapat membantu manusia mendeteksi berita hoaks serta melakukan sentimental analisis terhadap data yang beredar di dunia maya. Sentimental analisis dengan mempergunakan AI ini menelurkan penelitian tentang deteksi headline, klasifikasi hoaks, pendeteksian pola clickbait (umpan klik), dan bahkan pendeteksian fenomena tertentu yang beredar di media sosial seperti deteksi potensi kasus Covid-19 dengan merujuk pada pengajuan mandiri di media sosial. Periset yang telah memiliki kecukupan pengetahuan dan keterampilan melakukan riset dengan baik dan benar dapat memanfaatkan AI untuk memperkaya analisis ilmiah dalam karyanya.

Potensi penggunaan ChatGPT juga tidak kalah seru. Riset menangkap beberapa penelitian yang mendukung manfaat AI ini dalam kajian-kajian unik seperti efektivitas alat ini untuk mereduksi stres dan cemas/takut berlebihan (anxiety) pelajar dengan menjadi mitra (partner) berkonsultasi. Tantangan pendidik lebih kepada desain tugas yang memicu pertanyaan kreatif, bukan hanya tugas formalitas ala konvensional yang dapat dengan mudah ditanyakan pada ChatGPT.

Riset yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa ChatGPT mampu menjadi penasihat alternatif dalam penegakan diagnosa. Tentu manusia tetap harus menjadi penganalisis utama.

ChatGPT dapat dipergunakan untuk membantu pendidik dan murid untuk mendapat masukan terkait kualitas jawaban murid. Penggunaan ChatGPT dalam dunia pendidikan diteliti di beberapa daerah seperti Eropa, Nigeria, dan China. Penggunaan AI ini harus diiringi dengan kontrol etika yang ketat, seperti mekanisme akuntabilitas dalam pengerjaan tugas. Menyiapkan waktu khusus untuk murid belajar mengonstruksi ide tanpa AI, misalnya dengan memberikan tugas menulis di kelas (tidak dijadikan pekerjaan rumah).

Hanya manusia yang tekun belajar yang akan mengungguli AI. Manusia yang malas belajar tentu akan tergantikan AI karena kualitas pekerjaan yang dihasilkan lebih rendah dari robot. Secanggih apa pun robot, manusia memiliki struktur otak yang kompleksnya luar biasa.

Ide dan tulisan umum tentu dapat dihasilkan dari AI dengan mudah. Namun, hal itu tidak terjadi pada tulisan berkualitas tinggi. Konstruksi ide, ketajaman analisis, penyambungan pola antarvariabel, novelty, validitas, dan pemikiran yang kritis hanya dapat ditulis oleh manusia yang lebih cerdas dari AI. Penggunaan AI dalam pendidikan tidak sepenuhnya salah. Sebagai pendidik, kita wajib menanggapi disrupsi ini dengan kebijaksanaan. (*)

 

Supeni Anggraeni Mapuasari, Dosen dan Peneliti di President University

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.