Nilai-nilai Adat dan Pembangunan Papua

ARTIKEL ini untuk menanggapi tulisan Noer Fauzi Rachman yang berjudul ”Paradigma Pembangunan Papua”, Kompas (29/3/2022), dan artikel-artikel Kompas sesudahnya mengenai Papua.

Rancangan Induk Pembangunan Papua (RIPP) 2022-2041 harus dilihat kembali dengan pertanyaan paling utama, yakni siapa yang dilayani oleh pembangunan itu. Banyak orang asli Papua (OAP) bertanya, pembangunan ini untuk siapa?

Mereka melihat bahwa ”tanahnya dibangun, orangnya dibiarkan”. Lirik lagu penyanyi reggae, Jimmy Cliff, berjudul ”Sufferin’ in the Land”, telah mempermudahkan OAP menyalurkan ekspresi kritik atas hasil pembangunan, ”The rich get richer and the poor get poorer, sufferin’ in the land.”

Pembangunan manusia (human development) untuk OAP seharusnya berdasarkan pada nilai-nilai adat dalam masyarakatnya. Nilai-nilai adat ini penting, relevan, dan mampu mendasari cara berpikir bagaimana seharusnya membangun Papua.

Dasar-dasar nilai adat juga akan menjadi penyaring atas pengaruh buruk modernisme. Secara kebudayaan, nilai-nilai adat itu terkandung dalam pengetahuan dan teknologi tradisional serta kearifan lokal yang telah dipraktikkan. Itulah akar yang kokoh (solid roots) dalam menentukan ke mana arah perubahan Papua 20 tahun mendatang.

Nilai-nilai adat bukanlah sedimen dari kebudayaan kuno yang harus ditinggalkan, tetapi menjadi identitas OAP. Pengetahuan dan teknologi tradisional serta kearifan lokal haruslah terus dipelajari generasi muda agar hidup orang-orang Papua selaras dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

Sebutan untuk Sang Pencipta dikenal dengan berbagai panggilan sesuai konteks suku. Ugatamee yang artinya Dewa Pencipta dalam bahasa Paniai (Benny Giay 1995/2022 Zakheus Pakage dan Komunitasnya: Wacana Keagamaan Pribumi, Perlawanan Sosial-Politik, dan Transformasi Sejarah Orang Mee, Papua). Masyarakat Sentani percaya kepada Hokaimiyae (Ibu Pertiwi), dewa pemberi kehidupan, yang tinggal di palung Pegunungan Cyclops atau Dobonsolo (Wigati Yektiningtyas Modouw, 2008, Helahili dan Ehabla, Fungsinya dan Peran Perempuan dalam Masyarakat Sentani Papua).

Pendidikan kontekstual

Papua perlu ukuran pembangunannya sendiri, dan tidak bisa Papua hanya sekadar tempelan untuk model pembangunan yang sama di belahan lain. Keanekaragaman alam hayati dan budaya Papua harus dipelihara dan dijadikan modalitas utama pembangunan. Konteks khusus Papua demikian itu harus diajarkan terus-menerus melalui pendidikan yang berbasis kontekstual. Ini masih belum dipahami oleh para perancang kebijakan pembangunan Papua.

Perlu ada pengakuan dan penghargaan atas andil para tokoh pemimpin adat laki-laki dan perempuan di tiap suku dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Mereka adalah para empu pengetahuan dan teknologi tradisional, dan penjaga kearifan lokal. Nyanyian, mantra, cerita, gambar, ukiran, hingga gerak badan haruslah dilibatkan dalam tim pendidikan kontekstual, baik di sanggar-sanggar maupun di tiap-tiap level sekolah formal (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi).

Pengalihan pengetahuan, teknologi tradisional, dan kearifan lokal kepada generasi muda dilakukan dengan bahasa masing-masing. Kearifan lokal dan identitas diri menjadi bagian inti bagaimana orang muda Papua mengembangkan dirinya agar bisa berfungsi dalam masyarakatnya dan membangun daerahnya. Ruang-ruang dalam seperti ini juga dapat memberi kontribusi yang berpengaruh dengan mengutamakan kreativitas, problem solving, dan critical thinking skills.

Data tentang kebudayaan Papua yang masih sangat sedikit, bahkan ada beberapa yang memakai bahasa Belanda, mempersulit dalam pengetahuan akan kehidupan tradisi dulu. Jurnal-jurnal yang dihasilkan oleh akademisi Papua juga belum banyak. Jadi, para tokoh adat, pelaku budaya, dan seni tradisi sangat perlu untuk diandalkan. Jumlah mereka sedikit, dan perlu diperbanyak.

Peran sekolah adat, sekolah alam, sanggar komunitas lingkungan dan seni di Papua juga tidak kalah penting dalam menganalisis dan mengajarkan kembali pembagian kerja pertanian, mulai dari melakukan penanaman, pemeliharaan, pemanenan tanaman, penangkapan ikan dan biota danau dan laut, hingga perburuan binatang di hutan. Ini yang akan melestarikan konsumsi pangan lokal.

Pembangunan karakter (character building) adalah bagian penting dalam pendidikan, dan ternyata dahulu sudah diajarkan di rumah-rumah inisiasi lewat folklor, pantun, ataupun lantunan yang berisi nasihat/wejangan. Kurikulum, metode, dan bahasa komunikasi yang dipakai dalam sekolah-sekolah dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi harus sesuai konteks daerah. Jadi, semestinya ada banyak model, metode, dan kurikulum yang harus bisa menjangkau tiap konteks suku.

Inti dari metode ini adalah pembelajaran yang partisipatif (participatory learning and action), di mana semua punya andil dan bisa menjadi narasumber. Papua Melayu adalah bahasa komunikasi sehari-hari yang digunakan dalam metode ini disertai musik, teater/drama, menggambar, mengukir, merajut, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini tidak jauh dari kebiasaan yang dipraktikkan sehari-hari mama-mana Papua dan para empu laki-laki di kampung-kampung.

Penulis yang sempat terlibat sebagai pelatih pengembangan masyakarakat merasakan manfaat besar ketika mengaplikasikan metode ini dalam pelatihan. Konteks di kampung tentu menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa komunikasi sampai ke hal dasar, seperti pengenalan huruf.

Ada satu komunitas di Genyem, Jayapura, Orpa (Organisasi Perempuan Adat) suku Namblong. Komunitas ini telah mendirikan Sekolah Bahasa Namblong. Tahun 2015, Orpa juga terlibat dalam tim kerja penerjemahan Namblong Nmbuo dan menghasilkan Kamus Bergambar Namblong-Indonesia-English, hasil adaptasi dari Summer Institute of Linguistics (SIL) International Sentani.

Pendidikan di Papua harus bisa mempersiapkan dan memudahkan para pemuda Papua untuk bersaing dalam dunia pekerjaan, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, bukan hanya mengharapkan, menunggu, dan menerima jatah menjadi pegawai di pemerintahan daerah atau menjadi penonton dari perusahaan-perusahaan ekstraksi sumber daya alam, baik dari tambang, kayu, maupun perkebunan sawit.

Tiap-tiap masyarakat adat di Papua pada mulanya memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak-anak untuk memiliki berbagai kecakapan dasar untuk melanjutkan hidup (life skills). Di dalam kebudayaan Sentani, selain rumah adat suku Sentani yang disebut obhe, ada rumah adat yang disebut khombobulu.

Fungsi khombobulu ini sangat penting, sebagai rumah inisiasi untuk penyiapan keterampilan dasar bagi anak-anak yang sudah menginjak usia remaja. Di sini mereka diajarkan cara untuk berburu, mencari ikan, hingga menokok sagu. Pada saat mereka diajarkan hal-hal tersebut, ada filosofi, nilai, dan nasihat yang terkandung di dalamnya, yang memiliki makna kuat. Jadi, ketika anak sudah menginjak usia dewasa dan dianggap sudah siap, dia akan menikah dan hidup berkeluarga mengikuti apa yang sudah ditanamkan di khombobulu.

Tiap suku di Papua memiliki rumah inisiasinya masing-masing dengan sebutan yang berbeda. Semenjak diselenggarakan sekolah-sekolah oleh gereja dan pemerintah, banyak sekali rumah inisiasi seperti ini sudah tidak difungsikan lagi. Argumen utama tulisan ini adalah bahwa rumah-rumah inisiasi seperti khombobulu di Sentani sangat vital untuk memberi dasar yang seharusnya bagi generasi muda Papua untuk memiliki kecakapan dasar hidup, untuk maju dan berkembang di tengah era globalisasi.

Papua warga dunia

Pada tahapan sekolah menengah dan tinggi, bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional harus dikuasai, generasi muda Papua perlu memahami kemampuannya dan keberadaan/eksistensinya dalam perkembangan zaman melalui self realization dan self worth untuk menunjukkan apa-apa yang bisa mereka kontribusikan untuk Indonesia, bahkan dunia.

Kita harus menyadari dan mengonsumsi produksi lokal, baik untuk makanan maupun prasarana dan sarana yang dipakai di perkantoran, sekolah, hingga fasilitas umum. Dengan menggunakan barang lokal, kita juga dapat mengurangi efek pemanasan global (global warming) yang sekarang ini sedang terjadi di mana-mana, termasuk disebabkan oleh pengangkutan barang-barang luar dengan kapal, pesawat, dan truk yang menghasilkan gas karbon dioksida akibat pembakaran.

Kita tidak bisa memakai ukuran (standard) dari negara maju. Justru harus menciptakan ukuran pembangunan yang kontekstual. Akan sangat fatal jika tetap menggunakan dasar ukuran dengan pemikiran dari luar. Yang harus menjadi pegangan utama adalah bahwa orang Papua tahu harus berbuat apa demi mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya.

Menurut saya, yang menjadi masalah sekarang ini, orang Papua banyak dibingungkan dan mudah terprovokasi dengan rayuan, iklan, dan godaan sistemik yang melayani kepentingan-kepentingan elite. Maka, penting sekali untuk mendasarkan diri kembali pada nilai-nilai adat yang masih relevan sebagai landasan nilai-nilai dalam membangun Papua. Lewat pendasaran kembali ini juga, kita dapat mengatur basis ekonomi komunal/bersama. Pada dasarnya OAP hidup secara berkelompok, dan berkembang bersama-sama. (*)

 

Irma Dian Awoitauw, Project Consultant Hapin Nederlands di Papua; Aktif dalam Komunitas Seni Alyakha Art Centre di Kampung Yokiwa, Sentani, Jayapura.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: