Wacana

Nostalgia Mei 1998

MICHAEL SUDSON, profesor jurnalistik Universitas Columbia Amerika, pernah bertanya: bagaimana orang Amerika mengingat skandal Watergate setelah 20 tahun berlalu? Watergate adalah salah satu peristiwa politik domestik paling traumatis dalam sejarah pascaperang Amerika.

Untuk mencari jawabannya, alih-alih bertanya langsung kepada warga Amerika, Schudson mengkaji ingatan kolektif masyarakat Amerika melalui artefak narasi berita yang muncul di media pemberitaan New York Times, Newsweek, Washington Post, Los Angeles Times, Time, CBS, dan NBC. Ia juga menggali narasi yang muncul dalam program televisi, buku-buku, buku teks sekolah, dan sebagainya. Semua itu diistilahkan Schudson sebagai the stuff of our collective memory (1992; 4).

Dalam konteks Reformasi Mei 1998, bagaimana masyarakat Indonesia mengenang peristiwa 25 tahun lalu tersebut?

Di sebuah gedung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terpampang puluhan foto kisah heroik mahasiswa meruntuhkan kekuasaan Orde Baru. Sebuah dinding berwarna merah darah tertulis huruf mencolok mata: Jakarta, Mei 1998. Hari itu, 13-14 Mei 1998, di Jakarta. 1.217 orang meninggal; 189 perempuan diperkosa; 32 mal, 218 toko, 155 bank, 165 ruko, 81 kantor, 4 hotel, 21 rumah, dan 2 SPBU hancur dibakar dan dijarah. Saat menyambangi tempat tersebut, sebuah poster besar bergambar calon presiden menyambut pengunjung.

Mengenang Reformasi 1998 juga dilakukan media massa seperti Kompas. Peristiwa yang keterlibatan masyarakatnya bersifat kolosal tersebut didesiminasi melalui versi cetak, media sosial, bahkan pameran. Aktivis 1998 yang terus berjuang tanpa transaksi jabatan dimunculkan melalui berita “Masih Idealis setelah 25 Tahun Reformasi”. Akun Twitter @hariankompas membuat utas Mengenang Tragedi Trisakti Mei 1998 dengan tagar #MenolakLupa#Reformasi1998.

Lain lagi dengan masyarakat kota Semarang yang merawat ingatan agar peristiwa pahit Mei 1998 tidak terulang dengan ritual rujak pare (Kompas, 22 Mei 2023).

Nostalgia restoratif

Pameran foto, desiminasi utas, hingga rujak pare adalah sebagian cara masyarakat Indonesia mengingat peristiwa Mei 1998. Semua itu adalah the stuff of our collective memory. Setelah 25 tahun berlalu, ingatan tersebut berkelindan antara ingatan kolektif dan ingatan pribadi. Inilah yang disebut nostalgia.

Svetlana Boym (2001) merumuskan, berbeda dengan melankolia yang terbatas pada ranah kesadaran individual, nostalgia membahas hubungan antara biografi individu dengan biografi kelompok atau bangsa, antara ingatan pribadi dan kolektif. Ada dua jenis nostalgia, yaitu nostalgia restoratif dan nostalgia reflektif.

Nostalgia restoratif menekankan nostos dan mencoba melakukan rekonstruksi transhistoris dari rumah yang hilang. Nostalgia reflektif berkembang dalam algia, kerinduan itu sendiri, dan menunda kepulangan dengan kerinduan, dengan cara yang merindukan, ironis, dan putus asa.

Nostalgia restoratif tidak menganggap dirinya sebagai nostalgia, melainkan sebagai kebenaran dan tradisi. Nostalgia reflektif menggali ambivalensi kerinduan dan perasaan memiliki dan tidak memiliki dan tidak menghindari kontradiksi-kontradiksi modernitas. Nostalgia restoratif melindungi kebenaran mutlak, sedangkan nostalgia reflektif meragukannya.

Dalam konteks tragedi Mei 1998, nostalgia restoratif mengacu kepada upaya untuk mengembalikan kondisi masa lalu sebelum tragedi terjadi. Ini bisa mencakup keinginan untuk mengembalikan stabilitas sosial politik, menghidupkan kembali suasana keamanan dan perdamaian, serta memulihkan hubungan antarkelompok masyarakat yang rusak akibat kekerasan dan konflik.

Nostalgia restoratif dalam konteks ini muncul sebagai respons perubahan dramatis dan traumatis yang terjadi pada masa tragedi. Masyarakat mungkin merindukan kehidupan sebelumnya yang dianggap lebih harmonis dan damai, dan berharap untuk kembali ke keadaan tersebut.

Namun, perlu dicatat bahwa nostalgia restoratif tidak selalu merupakan pendekatan yang memadai atau konstruktif. Meskipun bisa menjadi sumber motivasi untuk memperbaiki dan memulihkan situasi yang terjadi, nostalgia restoratif juga dapat melibatkan bahaya idealisasi masa lalu yang tidak realistis, mengabaikan ketidakadilan dan masalah struktural yang mungkin telah menjadi faktor pemicu tragedi.

Di sini penting untuk menggabungkan nostalgia restoratif dengan sikap kritis dan reflektif. Mengakui kerugian dan trauma yang dialami oleh individu dan kelompok yang terkena dampak tragedi, serta berusaha memperbaiki ketidakadilan struktural yang mungkin memainkan peran dalam peristiwa tersebut, lebih penting daripada sekadar mengembalikan kondisi masa lalu yang diidamkan. (*)

 

Doddy Salman, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.