Wacana

Pemilu untuk Merawat Kemajemukan

INI tahun politik. Begitulah kata yang sering diucapkan menjelang Pemilu 2024. Tidak hanya ucapan yang memuncak, tetapi suhu politik pun terasa memanas, saling serang dengan menjelek-jelekkan lawan politik, saling menuduh, bahkan saling fitnah bertebaran di medsos. Kalau tidak bisa memahami sebagai suatu strategi menjatuhkan lawan politik dan memenangkan pemilu, maka akan membuat telinga memanas.

Para politisi, pemimpin, dan bangsa harus menyadari kemajemukan adalah realitas dasar kehidupan negara ini dibentuk, yang harus diperkuat. Tanpa kearifan politik yang tinggi, kemajemukan bisa melemah dan memecah belah kekuatan berbangsa.

Politisi, pemimpin suku, dan tokoh agama boleh berbeda-beda dalam menentukan pilihannya, tetapi semuanya terikat rasa persatuan atas kemajemukan bangsa. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seharusnya menjadi tema aktual kampanye.

Dengan mengemukakan program dan gambaran masa depan lebih baik, jelas, dan terukur sehingga kampanye yang berbeda-beda itu memiliki napas yang sama guna memperkuat persatuan dan memperkaya kebhinekaan.

Selain itu, tahun politik sering menjadi panggung bagi ekspresi demokrasi. Masyarakat mempunyai kesempatan ikut dalam proses pengambilan keputusan yang dapat memengaruhi nasib masyarakat di masa yang akan datang.

Sepanjang tahun politik, diskusi secara intens dilakukan dengan mengambil berbagai tema, seperti masalah sosial, ekonomi, lingkungan, dan etika. Politisi bekerja keras memenangkan kepercayaan publik dan menjalankan tugas pemerintahan berikutnya.

Tahun politik juga sering diwarnai polarisasi dan perselisihan antara faksi politik. Perbedaan pandangan dan tujuan sering mendorong kompetisi yang ketat. Pada saat yang sama dapat menghasilkan dinamika konstruktif dalam proses pembuatan kebijakan. Tahun politik juga merupakan momen penting bagi media dan opini publik karena perhatian yang tinggi terhadap isu politik cenderung memengaruhi narasi yang berkembang dalam masyarakat.

Secara keseluruhan, tahun politik sangat penting dalam perjalanan negara. Ini saat warga negara berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi, pemimpin politik merancang visi dan program kebijakan, dan masyarakat mengevaluasi arah yang akan diambil pemerintahan selanjutnya dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Tantangan masa depan

Tindakan politik juga dapat berpengaruh terhadap investasi asing dan perdagangan internasional. Kebijakan tarif, kuota impor, dan perjanjian perdagangan merupakan contoh politik luar negeri memengaruhi arus modal dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Persatuan bangsa tak bertahan lama jika kesenjangan ekonomi menajam dan keadilan hukum makin menjauh. Meski demikian, bangsa ini harus kian dewasa dengan kemampuan mengontrol dirinya lebih terbuka berdialog dengan bebagai keanekaragaman. Realitas fanatisme dalam kelompok aliran politik, suku, dan agama menjadi fenomena umum di mana masing-masing kelompok membangga-banggakan dirinya.

Semua aliran pemikiran dunia ketika memasuki dan disosialisasikan di Indonesia semestinya berada dalam wilayah keindonesian yang penuh keberagaman. Fanatisme tak bisa dihindarkan terjadinya dan menjadi fenomena sosial yang sering berlaku di berbagai belahan dunia.

Namun, jangan sampai fanatisme dimutlakkan sehingga menghakimi mereka yang berbeda pendapat, aliran, dan mazhab yang lain itu dianggap tersesat. Manusia tak pernah mampu menggenggam kemutlakan dan kesempurnaan.

Fanatisme adalah realitas sosial, tetapi dalam masyarakat majemuk, fanatisme sebaiknya diberlakukan secara internal. Fanatisme tak boleh menjadi sempit dan diperlakukan secara eksternal untuk orang lain dengan menghakiminya salah dan layak dijauhkan.

Fanatisme sempit tidak bisa diberlakukan mutlak dan dipakai untuk kalangan eksternal karena akan membuka permusuhan, konflik horizontal, dan tak jarang mengambil bentuk kekerasaan dan mencabik-cabik persatuan bangsa dan persatuan nasional.

Fanatisme politik mengacu pada tingkat ekstremisme atau kesetiaan yang berlebihan terhadap suatu ideologi politik, partai, atau pemimpin politik. Dampak fanatisme bisa sangat beragam dan dapat memiliki konsekuensi signifikan.

Jika terlalu fanatik dalam berpolitik dapat mengakibatkan polarisasi masyarakat, kurangnya kompromi, kehilangan perspektif rasional, kehilangan dukungan publik, sikap ekstrem, kurangnya inovasi dan pembaruan.

Penting diingat, fanatisme dalam konteks berpolitik tidak selalu memiliki dampak negatif. Namun, perlu diwaspadai ketika fanatisme mencapai level ekstrem, dampak negatif yang disebutkan sebelumnya bisa benar-benar terjadi.

Karena itu, penting bagi pelaku politik menjaga keseimbangan yang tepat antara kesetiaan pada ideologi tertentu dan kemampuan bekerja secara kooperatif dan rasional.

Seorang politisi yang mampu menggabungkan kesetiaan pada ideologi dengan kemampuan berkolaborasi bersama orang lain dan membuat keputusan rasional cenderung lebih efektif dalam mencapai tujuan politiknya dan menggerakkan kemajuan.

Kesimpulannya, fanatisme dalam politik memiliki potensi positif ketika diarahkan dengan bijak tetapi harus dijaga agar tidak melampaui batas yang sehat.

Politisi yang mampu menggabungkan kesetiaan pada ideologi dengan keterbukaan terhadap pandangan lain dan kemampuan berkolaborasi akan memiliki peluang lebih besar untuk mencapai hasil yang baik bagi masyarakat secara keseluruhan.

Pendidikan politik kemajemukan bangsa

Kita sudah mengambil keputusan politik menerima kehidupan multipartai dan menyerahkan urusan politik pada partai politik.

Diperlukan kesiapan dana dan ideologi karena partai politik tidak mempunyai kesiapan pendanaan yang kuat. Keuangan partai politik diperoleh dari dana iuran tetapi tidak cukup membiaya kegiatan partai politik.

Akibatnya partai politik pemenang pemilu melakukan kegiatan bisnis dari proyek-proyek pemerintah dan keuntungannya disumbangkan untuk partai politik guna mejalankan kegiatan politiknya. Partai politik menjalin koalisi dan berbagi kekuasaan di pemerintahan.

Bagi-bagi kekuasaan itu berujung pada bagi-bagi bisnis proyek pemerintah. Itulah akibatnya mengapa pejabat dari partai politik banyak yang terlibat korupsi berjamaah baik di pusat mapun di daerah.

Memang zaman berubah dan bergerak makin cepat mengakibatkan struktur kekuasaan jatuh bangun dan bangkit kembali dengan ideologi yang makin pragmatis. Cina pun dapat mencampur secara efektif kapitasme dengan komunisme dalam petarungan global.

Kemampuan menguasai iptek dalam perkembangannya menentukan eksistensi berbagai bangsa dalam pertarungan politik dunia global. Indonesia mau tak mau terlibat dalam pertarungan global dengan menjaga kemandiriannya.

Partai politik di Indonesia perlu menyesuaikan diri dalam sistem ideologi global dengan merumuskan secara aktual dalam ideologi politik pragmatiknya.

Dalam realitas pemikiran, terasa ideologi partai politik kita belum mampu menyerap ideologi pragmatik berbasis keindonesiaan.

Dalam konteks pemilu yang segera dilaksanakan, wawasan pemilu untuk merawat kemajemukan Indonesia menjadi sangat strategis. Pendidikan politik perlu dilakukan dalam kampanye politik yang memperkuat kemajemukan.

Jika kampanye politik dapat dilaksanakan dengan menjaga dan mengembangkan wawasan kemajemukan Indoensia baru, maka pemilu akan memperkuat keindonesiaan baru secara aktual dan produktif. (*)

 

Musa Asy’arie, Rektor UIN Sunan Kalijaga 2010-2014

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: