Wacana

Pendidikan Informal: Kebutuhan atau Keharusan?

KH Ahmad Dahlan pernah berkata, ”Warisan terbesar seorang ayah adalah dapat membuat keluarganya sebagai teladan.” Namun, sepertinya kalimat itu tidak berlaku bagi ”ayah” di luar sana yang terjebak dalam siklus keterbatasan materi atau tekanan ekonomi. Mereka tidak mampu menghadiahkan keluarganya dengan pendidikan yang berkualitas untuk menjadikan mereka seorang yang teladan.

Makna pendidikan yang ditanamkan kepada bangsa ini ialah bagaimana pendidikan menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berbudaya. Selama ini, pendidikan formal, seperti sekolah dan perguruan tinggi, menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan, dimana biaya yang dibutuhkan relatif besar untuk mencapai gelar yang diharapkan. Padahal, kita tidak seharusnya mengabaikan pentingnya pendidikan informal sebagai langkah alternatif Merdeka Belajar.

Pendidikan informal prinsipnya melibatkan pembelajaran di luar lingkungan formal, seperti melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, dan pelatihan nonformal. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan informal sering kali tidak mendapatkan pengakuan yang bisa saja merugikan masyarakat sehingga bisa saja terjadi deligitimasi pada pendidikan informal dan dianggap tidak sah atau tidak memiliki otoritas yang layak. Individu mungkin menghadapi diskriminasi, pengekangan hak-hak mereka, atau kesulitan dalam memperoleh dukungan dan sumber daya yang diperlukan. Dalam artikel ini, penulis mencoba mengulik mengapa kita perlu mewaspadai delegitimasi pendidikan informal?

Ada kesenjangan?

Pemahaman saya bahwa situasi pendidikan informal di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius dan juga pengakuan. Prinsipnya, internalisasi nilai-nilai pendidikan informal dapat memberikan kontribusi terhadap soft skill (pengetahuan, norma, tata laku, keterampilan dan kedisiplinan) yang mungkin saja tidak didapatkan dalam pendidikan formal.

Namun, pertanyaannya adalah apakah pembelajaran informal yang didapatkan dapat menjamin mereka memperoleh pekerjaan yang setara dengan mereka yang melewati pendidikan secara formal? Padahal, kita sadari pendidikan informal mampu mendorong pembelajaran sepanjang hayat karena dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Ini membantu pembelajar untuk terus mengembangkan diri mereka di luar konteks pendidikan yang formal.

Beberapa tahun terakhir, pendidikan informal sering kali dianggap kurang berharga atau bahkan diabaikan. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum cenderung memberikan lebih banyak perhatian dan sumber daya untuk pendidikan formal, sementara pendidikan informal sering dianggap kurang penting atau tidak memiliki legitimasi yang cukup di dunia nyata sehingga banyak program dan inisiatif pendidikan informal menghadapi tantangan dalam mendapatkan dukungan dan pengakuan yang mereka butuhkan, serta dapat eksis di masyarakat dan juga menjadi salah satu opsi pendidikan yang dilirik.

Delegitimasi atau tidak adanya pengakuan khusus pendidikan informal dapat memberikan beberapa konsekuensi yang merugikan. Pertama, hal ini dapat mengurangi motivasi individu pembelajar yang memiliki keterbatasan materi atau masyarakat yang terjebak dalam siklus kemiskinan untuk mau mengikuti pendidikan informal dan mencari pembelajaran di luar lingkungan formal. Jika pendidikan informal tidak dianggap penting atau berharga, banyak orang dapat kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri dan memperoleh keterampilan yang relevan untuk dunia nyata.

Selain itu, delegitimasi pendidikan informal juga dapat menyebabkan kesenjangan dalam akses pendidikan. Banyak orang, terutama mereka yang berada di desa, tidak memiliki akses mudah ke pendidikan berkualitas dan mengandalkan pendidikan informal sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Jika pendidikan informal terus diabaikan atau kurang didukung, kesenjangan dalam akses pendidikan akan semakin melebar, meningkatkan kesenjangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat.

Mengubah pandangan

Pemerintah dan lembaga pendidikan harus meningkatkan kesadaran akan nilai dan manfaat pendidikan informal, serta memberikan dukungan yang diperlukan, baik dalam bentuk kebijakan pendidikan maupun alokasi sumber daya. Masyarakat juga perlu mengubah pandangan mereka terhadap pendidikan informal dan memberikan apresiasi yang layak atas peran yang dimainkannya dalam pengembangan individu dan masyarakat.

Seperti kampus IPB University yang menggagas program-program pendidikan informal yang ditujukan bagi mereka yang membutuhkan pengembangan wawasan. Salah satunya, konsep Sekolah Vokasi Desa yang mempertemukan antara mahasiswa dan pemuda desa, di mana mereka berinteraksi dalam satu kegiatan yang sama untuk bertukar pikiran lewat aksi-aksi nyata yang dilakukan di desa.

Mahasiswa dituntut untuk memberikan perspektif teoritis kepada pemuda desa terhadap kasus yang mereka hadapi, dan sebaliknya pemuda desa memberikan perspektif dalam konteks pengalaman yang mereka lewati dan relevan terhadap kasus tersebut. Satu lagi tentang Sekolah Pemerintahan Desa yang lahir dari kampus IPB University, yaitu bagaimana aparat-aparat hingga kepala desa kembali ke kampus untuk belajar memahami tata kelola pembangunan desa yang demokratis berbasis data yang presisi.

Saya rasa ini adalah cara-cara alternatif belajar lanjutan, di mana kolaborasi antara pendidikan formal dan informal perlu ditingkatkan. Kerja sama antara lembaga pendidikan formal dan juga pemerintah dapat menciptakan sinergi yang kuat dan memperkaya pengalaman belajar masyarakat. Dengan membangun kemitraan yang kuat dua Lembaga ini, kita dapat mencapai pendidikan yang holistik, yang menggabungkan pembelajaran formal dan informal untuk menghasilkan sumber daya pemuda yang produktif dan berkualitas.

Mewaspadai delegitimasi pendidikan informal adalah langkah penting untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan, kreatif, dan berdaya saing. Dalam era di mana pengetahuan dan keterampilan yang relevan terus berubah, kita tidak boleh mengabaikan kontribusi penting yang dapat diberikan oleh pendidikan informal.

Mari kita mengakui, mendukung, dan memperkuat pendidikan informal sebagai bagian integral dari sistem pendidikan yang komprehensif. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa itu adalah sebuah kebutuhan dan keharusan dimana setiap individu akan memiliki kesempatan yang adil untuk mengembangkan diri dan meraih masa depan yang lebih baik dan merealisasikan ”keluarga sebagai teladan” untuk diwariskan kepada ”ayah mereka. (*)

 

Badar Muhammad, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB University

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.