Wacana

Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan, Belajar dari Suku Hattam, Papua Barat

Penulis: Edison Ompe

Penerbit: Rona Pancaran Ilmu

Tahun: 2017

Halaman: 188

 

Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan, Belajar dari Suku Hattam Papua Barat adalah sebuah buku hasil penelitian yang mengkaji pengetahuan tradisional suku Hattam yang berdomisili di Kampung Warkapi, Distrik Tanah Rubuh Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Buku ini memberikan gambaran pengetahuan lokal yang dimiliki oleh suku Hattam. Bagi masyarakat suku Hattam, alam adalah pusat kehidupan di mana segala hal terjadi dari, melalui, dan untuk alam. Sehingga keseimbangan dalam pengelolaan alam, menjadi penting. Pengelolaan lingkungan alam yang berkelanjutan menghadapi tantangan saat terjadi pemekaran sebuah daerah. Pemekaran dapat mengakibatkan pertumbuhan pesat dan memberikan dampak positif terhadap pembangunan wilayahnya, namun juga membawa konsekuensi negatif jika tidak dikelola dengan baik. Dalam prosesnya, isu-isu terkait lingkungan, degradasi nilai budaya, dan perubahan yang cepat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan non-fisik, terutama yang berfokus pada perlindungan lingkungan, menjadi sangat esensial.

Buku ini terdiri dari enam bab yang dapat dibagi menjadi empat bagian utama. Bagian pertama terdiri dari dua bab yang memberikan gambaran umum tentang suku dan budaya di Tanah Papua (Bab 1), diikuti dengan transformasi kebudayaan di Papua Barat (Bab 2). Bagian kedua fokus pada tema pendidikan, yaitu nilai pendidikan dan kearifan lokal (Bab 3). Bagian ketiga berfokus pada pengetahuan lokal, yaitu pengetahuan lokal suku Hattam di Kampung Warkapi (Bab 4), dan membahas pengembangan model pendidikan karakter berbasis lingkungan dari pengetahuan lokal (Bab 5). Bagian terakhir adalah refleksi kritis (bab 6).

Dalam bab awal, kita diajak untuk memperoleh pemahaman tentang sejarah penamaan pulau Papua, mulai dari penggunaan istilah “Nueva Guinea” (Ynigo Ortiz de Retes, 1545) hingga perkembangan istilah “Irian” dan “Papua” sampai dengan penggambaran ciri dan identitas khas orang Papua. Dalam konteks ini, pembaca akan mengetahui tentang keragaman karakteristik ras yang ditemukan pada penduduk asli Papua. Bab pertama juga membahas tentang hukum dan hak ulayat, serta pembagian wilayah adat menjadi tujuh wilayah adat yang meliputi Mamta (Papua Timur Laut), Saireri (Teluk Cenderawasih/Papua Utara), Domberai (Papua Barat Laut), Bomberai (Papua Barat), Ha Anim (Papua Selatan), dan La Pago (Papua Tengah). Melalui pembahasannya, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang keragaman geografis dan kebudayaan yang ada di Papua.

Dalam bab kedua, pembaca akan dibawa untuk mempelajari secara rinci tentang suku Hattam yang berada di Kampung Warkapi, Tanah Rubuh, Manokwari. Dalam penjelasannya, terungkap bahwa “pegunungan besar” adalah sebutan lain untuk Pegunungan Arfak, sebuah wilayah yang dihuni oleh masyarakat suku Arfak dengan jumlah penduduk sekitar 12.000 jiwa. Secara umum, mereka dikenal sebagai suku Arfak, tetapi terdiri dari beberapa sub-suku seperti Moule, Meyah, Moskona, Mansim-Borai, Kebar-Karon Timur (Mpur), Sough, dan Hattam. Bab ini secara keseluruhan membahas peran signifikan hutan dalam kehidupan masyarakat Arfak. Hutan menjadi pengikat hubungan antar warga dan antar suku. Selanjutnya, ada penjelasan tentang pegunungan Arfak, suku Hattam sebagai bagian dari suku Arfak dan terjadinya pergeseran nilai karakter budaya suku Hattam.

Bab ketiga membahas nilai pendidikan dan kearifan lokal, di mana bahasannya menekankan bahwa kegagalan dalam pembangunan tidak dapat dihindari jika pendekatan yang digunakan tidak melibatkan partisipasi masyarakat dan tidak mempertimbangkan karakteristik masyarakat. Sebab hal ini yang menimbulkan penolakan. Oleh karena itu, pembangunan yang berhasil harus sejalan dengan penguatan identitas, karakter, dan budaya masyarakat. Bab ini secara khusus membahas prinsip-prinsip kearifan lokal, prinsip pendidikan karakter, prinsip pendidikan lingkungan, dan metode pendidikan berbasis pengetahuan lokal.

Bab keempat membahas pengetahuan lokal suku Hattam di Kampung Warkapi. Pada tanggal 8 Oktober 1949, dua orang guru penginjil asal Biak, yaitu Wellem Suruan dan Elsius Baransano, memberi nama daerah kunjungan mereka dengan nama War-kap-i, yang berarti “air yang disebut” atau dalam bahasa Suku Hattam disebut “Hudongbou”. Bab ini mengulas tentang pola pembagian kawasan di Kampung Warkapi, termasuk kawasan pemukiman, kawasan situmti (kebun batas tepi pemukiman), kawasan kebun luar, kawasan daur ulang, kawasan nimahanti (bekas kebun), kawasan bahamti (hutan asli/primer), dan kawasan susti (kawasan pengelolaan yang bisa digarap sebagai ladang atau kebun). Termasuk menjelaskan tentang sistem kepemilikan tanah, pengetahuan tentang musim tanam, teknik pengolahan lahan, pemanfaatan hasil hutan seperti nipah, teknologi pagar kebun, arsitektur tradisional, dan simbolisasi perdamaian.

Bab kelima membahas pengembangan model pendidikan karakter berbasis lingkungan berdasarkan pengetahuan lokal suku Hattam. Bab yang dimulai dengan penjabaran 18 nilai karakter dari Kementerian Pendidikan. Bagian ini juga menjelaskan nilai-nilai, norma, dan kepercayaan serta formulasi sistem pendidikan lingkungan. Dalam sistem pendidikan lingkungan, seperti yang terjadi di suku Hattam, penanaman nilai-nilai karakter berbasis pengetahuan lokal yang berfokus pada lingkungan dilakukan melalui pengajaran. Di mana para tetua dan leluhur berperan sebagai guru. Mereka menjaga pemahaman generasi suku Hattam tentang urgensi menjaga alam dalam kehidupan mereka. Proses transformasi pengetahuan terjadi melalui dialog, keteladanan, penekanan pada prioritas pengelolaan alam, dan pengalaman keberhasilan yang berulang.

Dalam struktur penulisannya, buku ini membawa kita melihat mendesaknya pendekatan pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai lokal, serta pemanfaatan pengetahuan lokal dalam membangun model pendidikan karakter berkelanjutan. Bab refleksi kritis menjadi penutup, yang memberikan dimensi pemikiran yang lebih luas dan mendorong pembaca untuk berpikir kritis terhadap isu-isu yang dibahas dalam buku. Antara lain menekankan perlunya meningkatkan kesadaran akan sejarah dan budaya, misalnya melalui pendidikan yang mengajarkan pengetahuan lokal dan kearifan lokal dalam menjaga alam. Juga pendekatan kearifan lokal yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum sekolah, dapat kita sebut sebagai etnopedagogi.

Buku ini ditulis oleh Edison Ompe, seorang dosen luar biasa di STKIP Muhammadiyah Manokwari dan mengajar pada program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Cenderawasih, Jayapura. Selain itu, beliau juga bekerja sebagai sekretaris di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSD) Provinsi Papua Barat. Buku yang berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Belajar dari Suku Hattam Papua Barat” menawarkan sebuah perspektif menarik tentang peran pengetahuan lokal dalam memelihara identitas budaya, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, menciptakan pendidikan yang relevan, dan mendorong inovasi dalam pembangunan. Buku ini sekaligus memperkaya bacaan kita pada isu pendidikan di Papua serta melengkapi bacaan lainnya semacam Pendidikan dan Peradaban Papua (Modouw, 2013. Bajawa Press), Etnopedagogi Falsafah Bakar Batu di Tanah Papua (Wahyudin & Sumule, 2021. Penerbit UPI Bandung), Pendidikan Kontekstual Papua (Modouw, 2021. Penerbit UNY Press), Mendidik ala Papua (Fiharsono dkk, 2021. Penerbit Papua Cendekia).

Melalui penghargaan dan pemanfaatan pengetahuan lokal, masyarakat dapat memperoleh manfaat jangka panjang dan menciptakan dasar yang kuat untuk pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Buku yang sangat layak untuk dibaca karena memberikan wawasan yang berharga tentang pentingnya pengetahuan lokal dalam konteks pendidikan karakter di Papua Barat, dan bagaimana hal tersebut dapat menjadi landasan untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. (*)

 

Dayu Rifanto, Pengelola Taman Baca Pinjam Pustaka, Kota Sorong.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.