Wacana

Penghiliran Tambang dan Perpanjangan Izin Ekspor Tembaga

PEMERINTAH memutuskan memperpanjang izin ekspor kepada dua produsen tembaga besar, PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Kebijakan ini sangat berbeda dengan mineral jenis lainnya, seperti nikel, bauksit, timah, dan mangan, yang dihentikan ekspornya mulai Juni 2023.

Pemerintah memang sedang melakukan penghiliran barang tambang, termasuk mineral dan batu bara, dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambahnya. Setidaknya 21 komoditas akan dilarang untuk diekspor dalam bentuk mentah hingga 2040. Namun mengapa izin ekspor tembaga diperpanjang ketika pemerintah hendak menegakkan kebijakan penghiliran produk sumber daya alam?

Perlakuan terhadap tembaga memang sangat berbeda dengan jenis mineral lainnya. Sejak pembangunan pabrik tembaga PT Smelting Gresik pada 1996, produsen-produsen tembaga tidak lagi menjual mineral mentah. Produsen-produsen tembaga, seperti Freeport dan Newmont Nusa Tenggara (sekarang milik Amman Mineral), mengirim konsentrat tembaga mereka ke pabrik smelter PT Smelting Gresik dengan kapasitas 1 juta ton tembaga untuk diolah menjadi 300 ribu ton katoda. Konsentrat tembaga 1 juta ton itu berasal dari Freeport (40 persen) dan Newmont (40 persen).

Setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batu Bara, dinamika di sektor tambang berubah. Undang-undang itu menetapkan semua perusahaan tambang asing wajib mendivestasikan 51 persen sahamnya ke pihak domestik. Newmont kemudian didivestasikan ke pihak domestik melalui Amman Mineral, pengolah tambang emas dan tembaga di Batu Hijau, Sumbawa Barat; serta Elang Dodo, Sumbawa. Adapun Freeport mendivestasikan 51 persen sahamnya ke badan usaha milik negara bidang tambang MIND ID dan Pemerintah Provinsi Papua.

Setelah divestasi, baik Amman maupun Freeport berkomitmen membangun pabrik smelter tembaga. Smelter itu merupakan tambahan dari pabrik tembaga milik PT Smelting Gresik. Amman sudah membangun smelter tembaga di Sumbawa Barat dengan investasi senilai Rp 15 triliun dan kapasitas produksi 900 ribu ton per tahun. Freeport membangun pabrik smelter di Manyar, Gresik, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 1,7 juta ton per tahun dan sekitar 12 ribu pekerja. Pembangunan smelter tembaga dari dua produsen tembaga terbesar ini merupakan bentuk komitmen mereka mendukung kebijakan penghiliran mineral pemerintah.

Hal itu menunjukkan bahwa mineral jenis tembaga sejak 2000 tak pernah dijual mentah. Tembaga merupakan salah satu jenis mineral yang sudah dimurnikan hingga 92 persen. Jika menggunakan harga London Metal Exchange (LME) sekarang, harga pemurnian 92 persen konsentrat tembaga milik Freeport dan Amman Mineral senilai US$ 8.800 per ton. Artinya, pembangunan smelter oleh Amman dan Freeport hanya untuk menambah 8 persen untuk mencapai 99 persen pemurnian. Adapun harganya masih sama, senilai US$ 8.800 per ton. Dengan kata lain, pembangunan smelter itu sebenarnya tidak memiliki nilai tambah. Dari aspek bisnis memang tidak menguntungkan, tapi sangat penting secara politik dalam rangka mendukung komitmen penghiliran mineral pemerintah.

Produk konsentrat tembaga sangat berbeda dengan nikel dan bauksit. Nikel, misalnya, untuk nickel ore yang 1,6 persen harganya sebesar US$ 5.175 per ton dan jika dimurnikan menjadi nickel pig iron (NPI) menjadi 10 persen dengan harga US$ 21.344 per ton. Artinya, nilai tambahnya 32 persen. Jika ditingkatkan menjadi nikel katoda untuk stainless steel sebesar 99 persen, harganya meningkat US$ 23 ribu per ton. Begitu pun untuk nickel ore yang 1,2 persen, harganya lebih rendah, sebesar US$ 4.301 per ton, dan jika dimurnikan mixed hydroxide precipitate (MHP 40 persen), harganya meningkat menjadi US$ 15.686 per ton dengan nilai tambah 37,8 persen. Jika ditingkatkan lagi 99 persen menjadi nikel katoda untuk industri petrokimia, harganya akan naik ke angka US$ 23 ribu per ton.

Begitu pula dengan bauksit. Jika biji bauksit dijual dengan persentase 24 persen, harganya jatuh menjadi US$ 184,8 per ton. Jika dimurnikan menjadi alumina, harganya menjadi US$ 844,8 per ton atau nilai tambahnya 28 persen. Jika ditingkatkan menjadi aluminum ingot atau 99 persen, harganya ikut meningkat menjadi US$ 2.400 per ton.

Produksi bauksit menjadi alumina baru dilakukan perusahaan pelat merah PT Aneka Tambang Tbk, yang hanya 7-15 persen dari produsen bauksit. Badan usaha milik negara PT Indonesia Asahan Alumina merupakan satu-satunya perusahaan di Tanah Air yang memproduksi aluminum ingot dengan kapasitas produksi 500 ribu ton per tahun untuk diekspor ke Jepang. Dengan begitu, bauksit tampaknya memang perlu dihentikan ekspornya karena masih banyak produsen bauksit yang belum membangun pabrik smelter.

Dari perbandingan mineral jenis tembaga, nikel, dan bauksit di atas, sangatlah jelas bahwa produsen tembaga sebenarnya tidak boleh mengekspor bijih mentah, melainkan mengolahnya dulu menjadi konsentrat dengan nilai tambah 92 persen. Nikel dan bauksit selama ini banyak menjual bijih mentah atau yang belum dimurnikan di pabrik smelter. Ada pabrik, tapi tingkat pemurniannya masih 28 persen dan jika dibangun smelter masih memiliki nilai ekonomi tinggi serta menguntungkan secara bisnis dan penerimaan negara. Sementara itu, untuk tembaga, sama sekali tidak memiliki nilai tambah dan harganya pun masih sama dengan konsentrat. Itulah alasan mengapa pemerintah wajib memperpanjang izin ekspor produsen tembaga.

Dua produsen tembaga terbesar di atas memiliki kontribusi sangat besar untuk daerah dan nasional. Freeport berkontribusi sebesar 34 persen untuk Provinsi Papua dan 92 persen untuk Kabupaten Mimika. Adapun Amman Mineral menyumbang 70 persen untuk Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Jika ekspor dihentikan, dua produsen ini akan berhenti berproduksi. Ini akan berakibat langsung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) serta tingkat pertumbuhan ekonomi di Papua dan NTB sebagai rumah operasi tambang. Gelombang PHK akan berdampak pada keresahan sosial-politik di daerah.

Penghentian ekspor tembaga juga akan berdampak langsung pada pengembangan pabrik smelter dua perusahaan tersebut. Proses pembangunan smelter akan terhenti. Dana pembangunan smelter tembaga ini tidaklah kecil. Freeport harus merogoh kocek sekitar Rp 43 triliun dan Amman Rp 18 triliun untuk pembangunan smelter mereka. Dana ini tak mudah dicari di tengah masalah ekonomi global yang tak menentu setelah pandemi Covid-19. Dengan begitu, keputusan perpanjangan ekspor tembaga merupakan langkah yang tepat untuk mengantisipasi krisis dan kelanjutan investasi smelter.

Pemerintah perlu memberi kelonggaran bagi mereka 1-2 tahun hingga pembangunan smelternya rampung. Dalam kurun waktu itu, produsen-produsen tembaga dapat diwajibkan untuk melaporkan perkembangan pabrik smelter tembaga masing-masing.

Freeport, misalnya, sampai saat ini sudah membangun pabrik smelter baru di Manyar, Gresik, dengan tingkat perkembangan 56 persen. Freeport telah mengeluarkan modal (capital expenditure) sebesar Rp 27 triliun untuk konstruksi pabrik smelter di Manyar. Begitu pula dengan Amman Mineral. Tidak mungkin rasanya mereka tidak menyelesaikan pembangunan smelter ini karena mereka telah mengeluarkan dana investasi yang sangat besar untuk pengembangan pabrik. (*)

 

Ferdy Hasiman, Peneliti Alpha Research Database

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.