Wacana

Pertumbuhan, Inflasi, dan Potensi Manufaktur

BIRO PUSAT STATISTIK (BPS) baru saja menerbitkan Berita Resmi Statistik (BRS) untuk kuartal pertama 2023. Berdasarkan berita tersebut, ekonomi Indonesia telah tumbuh 5,03 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir 2022.

Ada beberapa catatan terhadap data BPS terbaru tersebut. Pertama, kendati ekonomi tumbuh semakin baik, rata-rata laju inflasi kuartal pertama masih cukup tinggi, yakni sekitar 5,22 persen. Laju inflasi pada April tercatat menurun ke 4,33 persen sehingga pada kuartal kedua nanti ekonomi Indonesia berpotensi lebih produktif.

Hal ini juga terlihat dari semakin menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT), dari 6,26 persen (Februari 2021) dan 5,83 persen (Februari 2022) ke 5,45 persen (Februari 2023). Kendati belum mencapai tingkat alamiah TPT dan capaian sebelum pandemi yang 4,94 persen (Februari 2020), tren penurunan ini membuktikan bahwa lapangan kerja semakin tersedia.

Kedua, proporsi pekerja formal juga cenderung menurun, dari 43,36 persen (Februari 2020), 40,38 persen (Februari 2021), dan 40,03 persen (Februari 2022), ke 39,88 persen (Februari 2023). Kenaikan tertinggi terjadi pada status pekerjaan utama pada berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh tetap. Ini berarti pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat kewirausahaan di Indonesia, bahkan, sebaliknya, lebih banyak orang membuka lapangan kerja sendiri meski masih didominasi sektor nonformal.

Ketiga, ekonomi kini menghadapi tantangan dari tiga sumber utama pertumbuhan karena ketiganya tumbuh lebih rendah dari total pertumbuhan 5,03 persen. Dari sisi nilai tambah, sektor manufaktur merupakan sektor paling dominan dengan pertumbuhan 4,43 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga merupakan pengeluaran ekonomi paling dominan dengan pertumbuhan 4,54 persen. Adapun dari sisi spasial, Jawa merupakan pulau paling padat dan besar kontribusi ekonominya dengan pertumbuhan 4,96 persen.

Dari sisi sektor, keberhasilan pemerintah mengendalikan pandemi sehingga mobilitas masyarakat bangkit terlihat secara konsisten sejak akhir semester pertama 2022 ketika sektor transportasi dan akomodasi serta makan-minum tumbuh sangat tinggi dan berperan sebagai penarik pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, karena proporsi kedua sektor ini hanya sekitar 8 persen dari total produk domestik bruto (PDB), kemampuannya menarik pertumbuhan ekonomi nasional masih terbatas.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh faktor eksternal, yaitu ekspor dan impor yang masing-masing menyumbang 22,71 persen dan -19,56 persen pada perekonomian nasional dengan pertumbuhan 11,68 persen dan 2,77 persen. Karena itu, neraca transaksi berjalan masih tercatat surplus, kendati harga internasional komoditas primer andalan ekspor Indonesia, seperti minyak sawit, batu bara, dan besi baja, terus menurun.

Keempat, dari hasil analisis neraca perdagangan bilateral dan jaringan produksi Indonesia dengan mitra dagang utama, tidak terlihat adanya perubahan daya saing relatif, baik sebelum maupun setelah pandemi. Karena pandemi tidak mengubah daya saing, setiap negara harus kembali berfokus untuk mendorong daya saingnya sendiri.

Ada penghubung antara daya saing dan percepatan pertumbuhan ekonomi, produktivitas, aktivitas ekonomi formal, konsumsi rumah tangga, dan spasial ekonomi Jawa dan Sumatera, yaitu apabila sektor manufaktur Indonesia semakin berdaya saing internasional dan masuk dalam jaringan nilai tambah global. Namun proporsi manufaktur dalam ekonomi Indonesia terus menurun dalam 20 tahun terakhir, dan saat pandemi turun dari 19,9 persen (2020) ke 18,3 persen (2022). Meski demikian, terlihat titik terang di awal tahun ini karena proporsi industri manufaktur naik menjadi 18,6 persen.

Setidaknya ada lima alasan mengapa tren ini baik bagi ekonomi nasional. Pertama, daya saing manufaktur meningkatkan produktivitas, tapi belum tentu sebaliknya. Daya saing dilihat dari keunggulan sebuah negara dalam menghasilkan dan menjual barang di pasar global, sementara produktivitas diukur secara umum yang mencakup juga daya saing lokal.

Kedua, peningkatan proporsi manufaktur akan meningkatkan peran aktivitas formal yang pada akhirnya meningkatkan penerimaan negara. Ketiga, semakin kuat daya saing manufaktur, semakin besar surplus neraca transaksi berjalan dan semakin tertarik investor untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat.

Keempat, Berita Resmi Statistik terakhir menunjukkan sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia di hampir semua pulau. Artinya, semakin naik daya saing manufaktur, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi pulau-pulau dominan, seperti Jawa dan Sumatera.

Kelima, lapangan kerja formal akan semakin tersedia sehingga tingkat pengangguran terbuka yang masih tinggi di beberapa provinsi di Sumatera dan Jawa, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat, akan turun.

Bila semua ini terjadi, konsumsi rumah tangga pun akan naik. Pada akhirnya, tujuan pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat digapai. (*)

 

Kiki Verico, Tenaga Ahli Menteri Keuangan Bidang Industri & Perdagangan Internasional dan Peneliti LPEM UI

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.