Wacana

Serial Killer, Mengapa Bisa Terjadi?

TINDAK pembunuhan yang kejam dan segala bentuk kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan sesungguhnya sudah lama terjadi dan bahkan setua sejarah umat manusia.

Meski di negara mana pun, ancaman hukuman bagi pembunuh sangat berat dan ajaran moral di mana pun selalu mengimbau agar kita tidak membunuh sesama. Namun, entah mengapa dari waktu ke waktu pembunuhan selalu masih saja berulang terjadi.

Hanya demi mengejar materi, serakah untuk segera mendapatkan uang banyak tanpa harus bekerja secara halal, seseorang bisa dengan mudah membunuh sesama. Mbah Slamet alias Tohari, misalnya. Lelaki paruh baya asal Banjarnegara ini dilaporkan paling tidak telah membunuh 12 orang demi menutupi ulahnya yang jahat. Mbah Slamet sejak 2020 dilaporkan membunuh belasan orang yang semuanya korban praktik penipuan yang dilakukan.

Mbah Slamet mengaku sebagai orang sakti yang bisa menggandakan uang. Dengan dalih harus melakukan ritual tertentu, Mbah Slamet meminta korban minum racun potas yang sudah disiapkan. Setelah tidak berdaya, ia kemudian mengubur para korbannya di areal perkebunan Desa Balun, Banjarnegara. Kini, Mbah Slamet menjalani pemeriksaan dan bisa dipastikan ancaman hukuman yang berat tengah menanti di persidangan nanti.

Mengapa membunuh?

Mengapa seseorang begitu mudah membunuh sesamanya? Kasus pembunuhan dengan jumlah korban lebih dari satu, bahkan belasan jiwa sebetulnya tak hanya dilakukan Mbah Slamet. Mbah Slamet salah satu pelaku serial killer di Tanah Air.

Di Indonesia, kita tentu masih ingat kasus pembunuhan yang dilakukan Rian Jombang, Wowon dkk, dan lain sebagainya yang tega membunuh korbannya tanpa belas kasihan. Secara teoretis, Kadish (1983), membedakan tindak kekerasan menjadi beberapa jenis.

Pertama, emotional violence, menunjuk pada tingkah laku agresif yang disebabkan amarah atau perasaan takut yang meningkat. Kedua, instrumental violence yang menunjuk pada tingkah laku agresif karena memang dipelajari dari lingkungannya.

Ketiga, random or individual violence. Tindak kejahatan ini menunjuk pada tingkah laku perorangan yang bersifat kekerasan dengan tujuan tertentu.

Keempat, collective violence, yakni kejahatan kekerasan yang menunjuk pada tingkah laku yang melibatkan kelompok tertentu untuk suatu tujuan. Termasuk kelompok ini adalah primitive collective violence, reactionary collective violence, dan modern violence.

Memang, pada masyarakat yang telah mengenal nilai dan norma sosial, naluri biologis manusia untuk bertindak agresif sering dapat diendapkan dan disublimasikan secara simbolis, dalam bentuk peraturan dan tatanan yang mendasari terwujudnya sebuah kehidupan bersama yang stabil, harmonis, dan damai.

Agama, misalnya, sering menjadi pengikat dan pengingat agar orang tidak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Namun, ketika peran nilai dan bahkan hukum mulai memudar, dan organisasi kehidupan mengalami kemerosotan, maka kendali tatanan nilai normatif yang menguasai hubungan sosial bisa menjadi lemah.

Bukan tidak mungkin terjadi, akibat desakan nafsu agresif di bawah sadar diri manusia lepas tak terkendali, maka desakan emosi niscaya meletup keluar dalam bentuk tindakan kekerasan atau tindakan lain yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Di mata para pendukung neoinstingtifisme, insting manusia selalu berupaya mencari penyaluran dan menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Berbeda dengan ahli seperti Konrad Lorenz yang lebih memfokuskan pada kekuatan subjektif sebagai faktor penyebab seseorang bertindak destruktif dan agresif, teori behavioristik tidak memfokuskan pada apa yang dirasakan manusia, tetapi lebih mengkaji tentang cara manusia berperilaku dan pada kondisi sosial yang membentuk perilaku manusia.

Ahli seperti Skinner (1953), misalnya, berasumsi manusia cenderung rentan dan mudah dipengaruhi faktor atau lingkungan sosialnya, tempat ia hidup. Seorang anak yang sejak kecil menjadi korban tindakan child abuse, tidak mustahil ketika dewasa tanpa sadar cenderung bertindak agresif dan melakukan berbagai kekerasan pada anak-istrinya, seperti yang sering ia alami pada masa lalunya.

Dengan kata lain, menurut teori behavioristik, agresi pada dasarnya terbentuk karena pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, melalui pengalaman atau mengamati perilaku orang lain.

Jalan tengah yang mencoba mengompromikan aliran instingtifisme dan behaviorisme, dalam perkembangan psikologi dipelopori Erich Fromm.

Dalam bukunya yang terkenal The Anatomy of Human Destructiveness (1973), Fromm membedakan apa yang disebut agresi lunak dan agresi jahat. Agresi lunak umumnya telah terprogram secara filogenetik seperti layaknya pada hewan.

Yakni, desakan untuk melawan atau melarikan diri ketika kelangsungan kehidupan hayatinya terancam. Agresi lunak defensif ini, bagi manusia biasanya untuk mempertahankan hidup spesies atau individu, bersifat adaptif biologis dan hanya muncul jika memang ada ancaman.

Sementara itu, agresi jahat, yakni kekejaman dan kedestruktifan, merupakan ciri khas spesies manusia dan tidak diketemukan dalam spesies yang lain. Agresi jahat ini tidak terprogram secara filogenetik dan tidak adaptif secara biologis.

Ia tidak memiliki tujuan dan muncul karena dorongan nafsu belaka (Fromm, 2000: xix).

Pengalaman banyak membuktikan, eksploitasi dan manipulasi menimbulkan kejenuhan dan ketidakberdayaan, keduanya mengerdilkan manusia dan semua faktor yang mengerdilkan manusia juga akan menjadikannya sebagai orang sadis dan destruktif (Fromm, 2000: 649).

Jalan pintas

Mencegah agar kasus-kasus pembunuhan massal tidak terjadi lagi, harus diakui bukan hal mudah. Dalam kondisi ekonomi sulit dan kecemburuan sosial kerap muncul karena merasa jauh ketinggalan dari sesamanya, maka kemungkinan orang untuk melakukan mobilitas sosial vertikal memang menjadi lambat.

Orang-orang marginal yang acapkali mengalami kesusahan dalam hidupnya, inilah yang kemudian tergoda memilih jalan pintas agar dapat terlibat dalam aktivitas kerja yang menjadi harapannya. Masalahnya, ketika jalur normal tak bisa dipenuhi, jalan pintas yang ditempuh sering menafikan persoalan moralitas dan rasa kemanusiaan.

Membunuh sesama adalah tindak kejahatan yang tidak hanya muncul secara spontan, tetapi juga terencana.

Dalam kasus tindak pembunuhan yang dilakukan pelaku secara sengaja dan terencana, tidak ada lain yang bisa dilakukan kecuali menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya.

Kendati bersifat kuratif, ancaman hukuman yang berat kepada pelaku, paling tidak akan membuat calon pelaku lain berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakan jahat membunuh orang demi mendapatkan keuntungan materi. (*)

 

Bagong Suyanto, Dosen S2 Kajian Ilmu Kepolisian Sekolah Pasca, Dekan FISIP Unair

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.