Wacana

Sketsa Serba-serbi Salat Subuh (2) : Belajar Demokrasi

BAGI kaum muslim, salat subuh di masjid, tentu, pertama-tama dan yang utama, lantaran untuk menjalankan perintah Allah. Sebagai pembuktian kita benar-benar tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Sebuah upaya untuk mencari keridhoan dari Sang Pencipta.

Di luar hal tersebut, salat subuh juga rupanya memberikan pelajaran lain kepada kita: esensi demokrasi. Salat subuh mengingatkan kita, dalam hidup, banyak warna. Plural. Jamak. Bukan warna tunggal. Dan kita diajari agar wajib menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan ikhlas.

Islam pada hakekatnya, dimanapun dan kapanpun, cuma satu. Sumbernya sama: Alquran dan hadis. Semua harus berpegang dan berpedoman kepada Alquran dan hadis. Bukan yang lain. Kendati begitu, dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai tafsir yang menyebabkan implementasinya juga dapat berbeda-beda.

Sepanjang tidak menyimpang dari kerangka inti ajaran agama Islam, perbedaan itu tentu bukan hal yang tabu. Bukan sesuatu yang perlu dihadapi dengan kebencian.

Setidaknya dalam pelaksanaan salat subuh perbedaan itu terlihat jelas. Dimulai dari perbedaan “klasik“ pelaksanaan salat subuh: qunut.

Sudah jamak dalam salat subuh, ada yang memakai qunut dan ada yang tidak memakainya. Do’a Qunut adalah sebuah amalan salat yang dibaca pada rakaat kedua saat salat subuh. Pada perbedaan soal ini, dapat terjadi jemaah yang berfaham tidak membaca qunut, salat subuh di masjid yang menerapkan qunut.

Dari pengamatan saya, ada dua sikap yang diperlihatkan oleh jemaah yang biasa tidak memakai qunut di masjid yang menerapkan qunut. Pertama, mereka lantaran toleransi dan menghormati jemaah di masjid itu, walaupun berfaham tidak membaca qunut, mereka ikut mengadahkan tangan dan mengikuti pembaca qunut.

Sedangkan yang kedua, karena berpandangan tidak membaca qunut merupakan bagian dari hak-hak masing-masing, mengambil sikap diam saja, dengan kedua tangan tetap di bawah. Setelah masuk sujud, mereka kembali bergabung.

Buat yang biasa memakai qunut pun masih terbagi dua. Ada yang biasa memakai bacaan qunut pendek, lima kalimat, namun ada juga yang memakai bacaan qunut panjang.

Umumnya apabila yang biasa menerapkan bacaan qunut pendek, kalau kebetulan berada di masjid yang menerapkan qunut dengan bacaan panjang, mereka ikut dalam jemaah dengan bacaan qunut panjang. Sebaliknya juga begitu. Mereka yang biasa melakukan qunut panjang, salat di masjid yang memakai qunut pendek, juga ikut saja.

Disini salat subuh sudah mengajarkan kita untuk belajar memahami adanya perbedaaan dan toleransi terhadap adanya perbedaan itu. Sejak salat subuh kita sudah dididik perbedaan merupakan sesuatu yang wajar. Sesuatu yang biasa saja. Kita pun diajarkan untuk toleransi terhadap perbedaan itu. Bukan menjadikan sumber permusuhan.

Selain soal qunut, dari pengalaman saya, masih ada perbedaan-perbedaan lain dalam salat subuh. Ada yang setelah salat subuh lantas zikir, dilanjutkan dengan membaca doa bersama. Zikir dan doa bersama dipimpin iman dan jemaat tinggal “mengaminkan” saja. Barulah sehabis doa bersama salat subuh selesai.

Tak semua jemaah sepaham setelah zikir ada doa bersama. Sebagian jemaah berpandangan, sesudah salat wajib tak ada lagi kewajiban melafalkan doa bersama. Jadi, mereka tidak ikut doa bersama. Mereka dapat langsung pulang, atau mereka masing-masing melanjutkan doa sendiri-sendiri saja.

Selesai salat pun masih tetap ada perbedaan. Sebagian jemaah selesai salat saling bersalaman dengan satu dua atau tiga jemaah di sisi kanan kirinya. Sebagian besar jemaah memandang “tradisi” salaman ini bagian dari silaturahmi dan merupakan hubungan antara manusia.

Kendati begitu, jangan kaget, ketika kita mengulurkan tangan untuk bersalaman, ada jemaah yang tidak berkenan alias menolak bersalaman. Kalau pun mereka mau juga bersalaman, lebih karena keterpaksaan saja. Bagi mereka tidak ada ketentuannya setelah salat harus bersalaman. Jadi usai salat mereka menganggap tidak perlu ada proses bersalam-salaman.

Sepanjang pengamatan saya, perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaan salat subuh dan segera setelahnya, dipandang sebagai perbedaan biasa yang masih dalam batas-batas ruang lingkup ajaran agama. Bukan sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang sesat. Oleh lantaran itu kaum jemaah salat subuh saling memahami, menghormati dan bertoleransi. Hubungan sosialnya pun tetap harmonis.

Dalam hal ini tidak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain. Tidak ada yang saling menuding dan menyalah-nyalahkan. Apalagi sampai mengkafir-kafirkan satu dengan lain.

Di luar niat kita salat subuh sebagai pelaksana bakti kita kepada Sang Yang Maha Esa Tuhan Semesta Alam, salat subuh rupanya juga memberikan pembelajaran mengenai perlunya menerapkan esensi demokrasi.

Hidup perlu menghargai perbedaan. Kita diingatkan, jangankan dengan umat lain, sesama muslim saja walaupun sumber sama-sama Alquran dan hadis, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa perbedaan.

Apalagi dengan yang jelas-jelas berbeda agama. Sudah pasti mengandung perbedaan-perbedaan mendasar. Kita sejak salat subuh sudah diajarkan dan dibiasakan untuk menghadapi pelbagai perbedaan. Kita sudah dikondisikan perbedaan bukanlah berarti permusuhan. Kita sudah biasakan untuk saling menghormati. Saling toleransi.

Betapa hebatnya salat subuh di masjid. Tabik!

 

Wina Armada Sukardi, Wartawan dan advokat senior; Anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.