Wacana

Sketsa Serba-serbi Salat Subuh (6) : Langsung Melayat

Dalam dua alenea terakhir puisi karya hamba berjudul “Matiku Matimu,” yang hamba buat Novermber 2017, dan telah diterbitkan sebagai salah satu puisi di buku karya tunggal  hamba, “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” tertulis:

             Mengapa kau masih meminta  hidup seribu tahun lagi

             walau kau tahu wafat tua atau muda tak beda.

KAPAN urusan nyawa kita dipanggil oleh Pencipta sekaligus Pemiliknya, tak ada yang tahu tepat. Kita tidak faham kapan bakal mengembuskan nafas teralhir, dimana dan sedang apa. Usia bukanlah isyarat kemaitan. Tua belum  tentu lebih cepat meninggal. Sebaliknya, muda bukanlah jaminan bakal hidup panjang. Banyak yang masih anak, belia, atau  muda sudah meninggal. Sebaliknya tak sedikit yang sudah sepuh dan sakit-sakitan pula, tetapi masih terus hidup.

Setiap saat, tua atau muda, dapat berpisah dengan dunia fana, dengan berjuta alasan. Kapan kita meninggal  tetap menjadi misteri. Sama dengan dimana dan dalam keadaan bagaimana kita meninggal, tak dapat ditebak. Bisa saja kita meninggal secara di luar dugaan kita. Maka sesunguhnya sholat subuh di mesjid bukanlah hanya untuk orang tua saja.

Selama ini, dalam pengamatan hamba ini, umumnya jemaah sholat di mesjid orang-orang “yang sudah meninggalkan dunia hitam,” alias rambut, kumis atau jenggot sudah tidak hitam lagi. Hampir semuanya sudah memutih alias sudah sempuh. Para jemaah yang rutin sholat di mesjid itu, dalam taksiran saya 80% memang para orang tua. Selebihbya baru yang lebih muda dan anak muda.

Biasanya cuma tiga shaf saja, paling banter 4 shaf.  Dari jumlah itu yang muda dapat dihitung dengan jari tangan.

Kenapa kaum mudah jarang yang hadir rutin sholat subuh? Tentu  banyak jawabannya. Mungkin mereka memang jika pagi hari lebih banyak kegiataan ketimbang yang tua-tua, apalagi yang pensiunan. Dengan berbagai kesibukannya, gak sempatlah jika kaum muda sholat subuh di mesjid. Waktu mereka terbatas. Kalau sholat subuh di mesjid jadwal mereka bakal terganggu. Jadilah mereka memilih sholat subuh di rumah saja.

Boleh jadi juga memang selama ini kita belum memiliki “tradisi “atau “budaya” sholat subuh di mesjid. Jadi, sholat subuh di mesjid belum internelazied atau belum mendarah daging dalam tradisi atau kebudayaan Indonesia. Walhasil, sholat subuh di mesjid memang belum menjadi prioritas mayarakat kita. Jangankan  sholat subuh di mesjid, sholat subuh  di ruma saja jangan-jangan juga jarang. Maka tak begitu mengherankan yang datang sholat subuh di mesjid sangat minim, itupun sebagian besar sudah sepuh.

Kemungkinan lain, sebagian masih beranggapan sholat subuh di mesjid memang lebih cocok untuk mereka yang sudah tua. Alasannya, anak muda kan secara teoritis umurnya masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Lebih banyak memperoleh kesempatan melakukan aktivitas keduniawian. Mungkin nanti setelah menjadi tua dan meninggalkan “dunia hitam,” mereka baru gabung ke jemaah mesjid subuh. Sebaliknya para orang tua dipandang lebih banyakwaktu senggang sehingga sholat subuh di mesjid tak akan menggnggu aktivittas mereka. Apalagi teoritis orang-orang tua kan sering disebut “sudah bau tanah” alias mendekati ajal. Kematian telah mengintip mereka. Wajarlah kalau  dipandang lebih bertaqwa dan mendekatkan diri ke Allah.

“Apakah ada generasi milineal yang sholat subuh di mesjid?” tanya seorang rekan dari Surabaya yang kebetulan selalu mengikuti tulisan “Skesat Serba-Serbi Sholat Subuh.” Hamba jawab, sekali dua kali ada, tapi yang rutin tidak ada.

“Waduh!” jawabnya seraya menerangkan dia khawatir generasi jemaah sholat subuh di mesjid yang akan datang bakalan lebih sulit lagi ada generasi mudanya.

Setelah sholat subuh di mesjid prakteknya kami sering mendengar pengumuman dari pengurus mesjid, adanya warga yang wafat pada tadi malam atau pada jelang subuh. Pengumuman dilantangkan melalui pengeras suara mesjid. Kalau yang meninggal masih tetangga sekitar lingkungan kami, biasanya setelah sholat subuh di mesjid, tanpa dikomando, kami para jemaah langsung melayat ke rumah duka.

“Kebiasaan” ini   menguntungkan bagi kami yang masih memiliki banyak kegiatan. Kalau tak melayat setelah sholat subuh, mungkin kami tak sempat melayat.

Pengalaman sebagai jemaah sholat subuh, yang meninggal tidak selalu orang yang sudah tua. Bisa juga yang masih muda yang belum pernah sholat subuh di mesjid. Fakta ini membuktikan sholat subuh di mesjid bukan cuma buat para orang tua, tapi juga semua lelaki dewasa. Sholat subuh di mesjid tak ada hubungan dengan tua atau muda. Inilah yang membuat saya November 2017 menulis puisi yang mengabarkan keadaan itu sebagai berikut:

Sholat Subuh di Mesjid

Sholat subuh berjemaah

di mesjid Jakarta

tiga shaf tak sampai

berjajar rambut beruban dan raut wajah keriput.

Sementara generasi melenial masih nyenyak tidur

nanti bangun memakai  wangi parfum

berpikir jauh dari bau tanah.

 

Siang hari setelah sholat dzahur

pengeras suara dari mesjid mengumumkan

Innailahi wainailaji rojiun

telah wafar si fulan berusia 21 tahun

subuh tadi.

 

Tabik!

 

Wina Armada Sukardi, Wartawan dan advokat senior; Anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.