Wacana

Suram dan Seram

PENGUJUNG 2022 sudah tiba. Tahun Baru 2023 sudah menyambut, baik dengan sambutan riang maupun muram. Namun, para analis sudah mengingatkan ‘badai yang sempurna’ telah siap menyergap. Badai itu bernama resesi ekonomi global. Teror akan datangnya resesi ekonomi bahkan sudah bergema sejak beberapa bulan ini.

Perasaan masyarakat terus-menerus diguncang, diaduk-aduk. Mirip roller coaster yang penuh tantangan. Baru saja geliat ekonomi mulai pulih setelah dua tahun dihantam pandemi, kini muncul teror resesi ekonomi global.

Walau banyak yang meyakini perekonomian kita tidak terlalu terdampak resesi dunia, toh kabar puluhan ribu pekerja ‘berguguran’ dari pabrik-pabrik tetap membuat panik sebagian masyarakat. Sebagian mereka berpikir bahwa jangan-jangan memang era suram perekonomian bakal melanda kita juga. Situasi itu pun membuat sebagian orang ciut nyali.

Begitulah dalil ekonomi, yakni setiap ada gejolak, bakal ada ancaman resesi. Untuk itu, resesi ekonomi sudah seperti siklus perekonomian, yakni boom and boost, ada saat kita di bawah, ada saat kita naik lagi. Konsekuensi resesi ekonomi akan terasa langsung dalam kehidupan masyarakat yang terkena, khususnya para pekerja.

Dampak pertama bisa kita lihat pasti ketika aktivitas-aktivitas ekonomi menurun akan diikuti dengan menurunnya permintaan. Ketika permintaan menurun, otomatis produksi juga turun. Akibat berikutnya, meningkatnya pengangguran karena perusahaan merumahkan bahkan mem-PHK pegawainya. Pada sisi lain, masyarakat yang memiliki dana berlebih akan mengambil uangnya dari bank untuk dipegang secara cash.

Perilaku seperti itu akan menambah tekanan dan memperburuk kondisi ekonomi yang ada. Itulah yang biasa dikenal dengan paradox of thrift alias paradoks penghematan, yakni sikap hemat berlebihan dari masyarakat di saat ekonomi sedang melemah. Padahal, yang dibutuhkan ialah menggenjot konsumsi. Masyarakat, terutama yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan memiliki kelebihan, harus belanja.

Belanja itulah yang akan membantu meningkatkan konsumsi dan produksi yang berefek pada ekonomi masyarakat kelas bawah. Saat mereka yang berlebih memesan makanan lewat lapak daring dan diantar kurir dengan biaya kirim Rp30 ribu, misalnya, uang tersebut tidak bernilai tinggi untuk yang berpenghasilan menengah ke atas. Namun, transaksi itu sangat bernilai dan membantu masyarakat bawah.

Beruntung bahwa gejala paradoks penghematan itu mulai berkurang. Gambaran riil yang terjadi pada perekonomian kita di kuartal ketiga 2022 ialah faktanya. Mereka yang memiliki dana berlebih mulai mau jorjoran belanja. Dampaknya, konsumsi tumbuh. Lalu, ekonomi juga tumbuh signifikan, 5,72%.

Itulah modal kuat perekonomian kita menuju 2023. Meskipun pada saat bersamaan, kabar ribuan karyawan dirumahkan dan sebagian di antaranya sudah di-PHK, terus bermunculan. Setidaknya, ada modal yang dibawa memasuki era suram tahun berikutnya. Mudah-mudahan, modal yang kita miliki di akhir 2022 itu kuat menahan badai, mengusir mendung.

Apalagi, kita punya pengalaman mampu bangkit dari jurang resesi berkali-kali, khususnya pada 1998, 2008, dan 2020. Pada akhir 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,94%. Dengan begitu, Indonesia resmi masuk ke jurang resesi per 5 November 2020 karena kuartal sebelumnya ekonomi kita juga terkontraksi hingga minus 5,3%.

Atas dasar ‘kumpulan modal’ itulah, tidak mengherankan bila banyak yang meyakini Indonesia tidak akan mengalami resesi ekonomi di 2023, meskipun banyak yang meramalkan kondisi ekonomi global penuh ketidakpastian. Kemungkinan yang kita alami hanya perlambatan ekonomi. Itu konsekuensi karena seluruh ekonomi dunia terhubung satu sama lain.

Untungnya, hanya 25% ekonomi kita yang terkoneksi dengan perekonomian global. Lebih dari 75% ekonomi kita berorientasi domestik, dengan konsumsi masyarakat yang mulai menggeliat serta ditopang besarnya populasi. Alhasil, ekonomi kita masih bergerak meskipun tidak seperti tahun ini. Diperkirakan permintaan komoditas pada 2023 akan menurun sehingga dampaknya pada penerimaan negara juga turun. Namun, ekonomi kita di 2023 diyakini masih bisa tumbuh sekitar 4% hingga 5%.

Semua mata saat ini masih tertuju pada kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Investor terus mencermati rilis data-data makro yang akan memberikan sinyal harapan The Fed melonggarkan kebijakan moneternya ke depan. Apalagi, inflasi AS mulai melandai, mencapai 7,7% (year on year/yoy) pada Oktober 2022, lebih rendah daripada September yang mencapai 8,5% (yoy).

Kendati melandai, inflasi masih jauh dari target The Fed, yakni di kisaran 2%. Itu artinya, ada secercah cahaya dalam lorong gelap perekonomian Amerika yang memiliki skala dan pengaruh terbesar pada ekonomi global. Kondisi itu, walau belum pasti, boleh kian menerbitkan harapan bahwa ekonomi dunia 2023 tidak sesuram dan seseram yang kerap disebutkan.

Kiranya tepat nasihat Rhoma Irama dalam lagunya, Habis Gelap Terbitlah Terang. Kata Bang Haji: Tak selamanya langit itu kelam. Suatu saat kan cerah juga. Hiduplah dengan sejuta harapan. (*)

 

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.