Wacana

Tanggung Jawab

JAKARTA hujan deras. Banjir di mana-mana. Tembok sebuah sekolah di Jakarta Selatan jebol dan meminta tiga korban tewas. Siapa bertanggung-jawab? Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, sebanyak 131 orang tewas terkena gas air mata. Korban tak bisa menyelamatkan diri ke luar stadion karena pintu gerbang tak bisa dibuka. Siapa yang bertanggung jawab? Ya, pintu yang tertutup itu dan tangga yang curam.

Dua contoh ini tentu sebuah sindiran. Bukan mau melucu karena ini menyangkut musibah. Intinya, siapa yang bertanggung jawab dalam sebuah malapetaka bisa dicari-cari sesuai dengan apa dan siapa yang mau dibidik. Tentu sangat mustahil kalau yang bertanggung jawab adalah benda mati, sesuatu yang tak bisa membela diri. Meminta tanggung jawab kepada pintu yang terkunci dan tangga yang curam merupakan sebuah sindiran yang menunjukkan sulitnya membebankan hal itu kepada manusia. Ini kasus di negeri kita tercinta, Indonesia.

Di negeri seberang, beban tanggung jawab itu segera diketahui. Di negara Barat, setiap ada musibah yang menimbulkan korban atau terjadi suatu kerugian yang menyangkut urusan hidup orang banyak, ada orang yang siap bertanggung jawab. Tanggung jawab ini diawali dengan pengunduran diri dari jabatannya. Siap diadili jika menyangkut masalah hukum. Lebih tragis jika hal itu terjadi di Jepang. Tanggung jawab itu tak mudah ditanggung selama hidup karena terkait dengan rasa malu. Maka, jiwanya dihabisi sendiri dengan harakiri: bunuh diri.

Musibah kemanusiaan di Kanjuruhan, yang dukanya bergema ke penjuru dunia, tak ada yang mengaku bertanggung jawab. Pangkal kerusuhan ini adalah pertandingan sepak bola di antara dua musuh bebuyutan yang sedaerah, Persebaya melawan Arema FC. Pertandingan sudah diprediksi bakal seru. Karena itu, pembatasan sudah dirancang. Pendukung Persebaya, yang dikenal dengan sebutan Bonek (bondo nekat), dilarang ke Malang. Dengan hanya satu kelompok suporter yang disebut Aremania, justru penonton berjubel melebihi kapasitas stadion. Banyak keluarga Aremania yang membawa anak-anaknya ke stadion karena yakin situasi akan aman, wong satu pendukung. Mungkin karena itu pulalah panitia pelaksana pertandingan mengabaikan usulan aparat keamanan agar pertandingan dimajukan sore hari. Panitia pelaksana ogah mengubah jadwal pertandingan karena hajatan ini disiarkan stasiun televisi yang mengutamakan rating.

Siapa menyangka malapetaka itu terjadi hanya lantaran seorang suporter masuk lapangan memberikan “peneduh hati” kepada kiper Arema agar tidak kecewa. Arema dikalahkan Persebaya. Polisi mengusir dengan keras suporter itu, yang membuat pendukung lainnya ikut emosi. Lalu polisi menembakkan gas air mata ke tribun agar arek-arek Aremania tidak turun ke lapangan. Menurut polisi, ini sesuai dengan prosedur pengamanan. Tapi, apalah daya, justru hal itu menjadi sumber musibah. Orang-orang yang sesak napas mau menyelamatkan diri ke luar stadion dan lemas karena pintu terkunci dari luar.

Masih sulitkah mencari siapa yang harus bertanggung jawab? Syukur tak ada yang menyebut tanggung jawab itu seharusnya ditujukan kepada Tuhan. Tak ada sesuatu yang terjadi di bumi ini jika Tuhan tidak berkehendak. Tapi untuk apa Tuhan “berkehendak” lewat musibah ini? Tim independen pencari fakta pun barangkali tak akan menemukan jawabannya, kecuali jika orang yang terlibat dalam hajatan ini mau berlapang dada mengakui kesalahan, lalu meminta maaf tanpa perlu disomasi seraya mengundurkan diri dari jabatannya. Itulah bukti mereka bertanggung jawab. Ketua PSSI seharusnya memberi contoh paling awal karena ini urusan bola, bukan soal banjir.

Adapun kenapa pintu stadion ditutup saat gas air mata ditembakkan polisi, ini keanehan yang harus diusut tuntas. Apakah kebetulan atau ada “kehendak” yang lain. (*)

 

Putu Setia, Penulis rubrik Cari Angin di Koran Tempo.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.