Tim Laman dan Keragaman Cenderawasih dalam Buku Bacaan Anak

SUATU waktu, ketika libur kuliah dulu, saya diajak kawan satu kontrakan untuk menginap di rumahnya beberapa hari. Dia menambahkan dengan bumbu yang rasanya tak bisa saya tolak “mau tidak, melihat perpustakaan aki (kakek)?” pancingnya. Saya mengamini ajakannya yang menarik itu. Sebab sebelumnya, kami sudah sama-sama membaca di surat kabar lokal, bahwa kakeknya, seorang penulis yang lama bermukim di Jepang, telah pulang ke Indonesia. Kepulangan kakeknya itu beserta membawa 15ribu judul buku, dalam 787 boks. Kakeknya memutuskan tinggal di Pabelan, sebuah daerah perbatasan Yogyakarta dan Magelang.

Ketika akhirnya sampai di perpustakaan milik kakeknya, yang bersebelahan saja dengan rumah kawan saya ini yang bernama Adi Sunata. Saya begitu takjub. Bangunan besar, dua lantai yang penuh dengan buku, patung, lukisan dan beragam benda seni lainnya. Ketika bertemu dengan kakeknya, saya pun sadar, betapa mirip teman ini dengan kakeknya itu, yang bernama Ajip Rosidi, seorang sastrawan yang memilih drop out dari Taman Madya (SMU), tetapi begitu produktif menulis dan berhasil dalam hidup hingga menjadi pengajar bahasa Indonesia di Jepang, karena “membaca buku sebanyak-banyaknya, melampaui yang dibaca oleh mereka yang sekolah.”

Saya begitu terpukau pada cerita itu, dan bersyukur bisa diajak Adi, saat itu. Karena pertemuan dengan kakeknya membuat saya punya ambisi memiliki banyak buku, meski dengan skala yang berbeda. Kebiasaan membeli, membaca dan mengoleksi bacaan pun seolah menemukan jalannya juga. Walau biasanya, orang akan bertanya “apa sih manfaatnya membaca lalu mengoleksi bacaan, yang belum tentu semuanya akan dibaca?” Tentu saja, saat kita membutuhkan sebuah informasi dari buku tersebut, dengan mudah kita bisa mengunjungi dan mencari

Seperti beberapa minggu lalu, ada sebuah buku yang saya beli, berjudul “Sampari Si Cenderawasih, yang terbit tahun akhir tahun 2022, yang ditulis oleh pasangan penyanyi Michael Jakarimilena dan istrinya, Floranesia Lantang, seorang pengajar.  Buku tersebut adalah buku bacaan anak yang menghadirkan Cenderawasih sebagai tokoh dalam cerita. Mengingat saya telah mengoleksi bacaan, terutama bacaan anak berlatar Papua, buku ini segera mengingatkan saya pada buku aktivitas berjudul Birds of Paradise yang terbit pada tahun 2016, yang ditulis oleh Tim Laman dkk. Juga pada ragam bacaan anak bertema Cenderawasih lainnya, yang kurang lebih ada 14 judul, pada koleksi bacaan saya.

Tim Laman, seorang dokter lulusan Harvard yang menjadi jurnalis foto bersama dengan temannya Dr. Edwin Scholes melakukan perjalanan ekspedisi “The Birds of Paradise- Cornell Lab of Ornithology.” Mereka mendokumentasikan burung Cendrawasih. Butuh delapan tahun, Tim Laman dkk dapat mengabadikan 39 jenis burung surga cendrawasih yang hanya ada di Papua, Indonesia dan Papua Nugini, serta Australia.

Dalam proyek ini, mereka sukses mendapat total 39.568 foto dari 51 lokasi kunjungan dan 80 jam merekam di dalam hutan dengan menggunakan kamuflase buatan. Yang bikin tambah menarik, 39 burung cendrawasih yang berbeda-beda, digambar oleh Andrew Leach, dari karya foto Dr Edwin Scholes dan jurnalis foto Tim Laman.

Bayangkan, ada sebuah buku aktivitas mewarnai, yang berisi 39 jenis burung cenderawasih yang cantik. Di mana, pada halaman belakang buku ini, ada foto burung-burung Cenderawasih tersebut, yang bisa menjadi rujukan mewarnai. Walau buku ini ditujukan buat orang dewasa, menurut saya bisa saja digunakan oleh anak dan remaja, yang ingin tahu beragam jenis Cenderawasih. Hal itu membuat mereka mengetahui keragaman jenis Cenderawasih di hutan-hutan Papua, sekaligus menyiratkan betapa pentingnya menjaga serta merawat hutan.

Dari 14 buku koleksi bacaan anak bertema Cenderawasih yang saya miliki, kebanyakan cerita dalam buku-buku tersebut menggunakan satu jenis Cenderawasih saja, sebagai tokohnya. Jenis burung Cenderawasih yang lazim digunakan sebagai tokoh, adalah jenis Cenderawasih Merah. Ragam jenis Cenderawasih belum hadir.

Menemukan fakta tersebut, dan menduga bahwa buku Birds of Paradise Tim Laman memengaruhi keragaman tokoh Cenderawasih dalam bacaan anak Sampari Si Cenderawasih adalah hal-hal yang menyenangkan buat saya. Ini termasuk memuaskan rasa ingin tahu pada project Birds of Paradise yang membawa saya pada video youtube Tanah Papua: A Paradise for Birds, yang telah ditonton 12 juta orang lebih. Jangan-jangan, sobat pembaca salah satu orang yang telah menontonnya. Jika belum, jangan lupa cari kedua buku itu, dan baca e.

Selamat mencari.

 

Dayu Rifanto, Mahasiswa S3 Pendidikan Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.
Penggiat literasi di Sorong, yang tahun 2022 menjadi penerima beasiswa LPDP Afirmasi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: