Wacana

Waisak adalah Keseharian

SAAT ini sebetulnya kehidupan mempunyai banyak warna, segi, atau bentuk yang dapat dinikmati. Ada dunia olahraga yang seru karena rebutan siapa menang, siapa kalah. Ada panggung hiburan yang marak karena memberikan keseruan aksi, tangis sedih, atau lelucon penuh tawa.

Namun, sepertinya ada kekuatan masif bernama politik yang mencuri perhatian. Di media, politik selalu menempati porsi utama dan besar, juga dibuat sangat hiruk pikuk, penuh kontroversi dan saling jegal. Ditambah lagi kehadirannya senantiasa mewarnai bidang apa saja. Ada politisasi olahraga, hiburan, hingga hukum ikut dipolitisasi. Sepertinya tidak ada di kehidupan ini yang bisa lari dari politik

Hal ini yang membuat tema hari raya Trisuci Waisak tahun 2023 yang ditetapkan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) menjadi sangat kontekstual dan relevan. Adapun tema hari raya Trisuci Waisak tahun 2587 BE atau 2023 yang ditetapkan Walubi adalah ”Aktualisasikan Ajaran Buddha Dharma di Dalam Kehidupan Sehari-hari”.

Hari raya Trisuci Waisak adalah hari raya umat Buddha untuk memperingati hari lahir, pencapaian kesadaran Buddha, dan moksya (meninggalnya) Sang Buddha. Ketiga peristiwa tesebut sebetulnya menyampaikan betapa pada akhirnya, sejak lahir hingga meninggal seorang manusia, bagaimana dharma Buddha berperan dalam hidupnya.

Sekilas sejarah Trisuci Waisak, Sang Buddha lahir dengan nama Siddharta Gautama. Sebagai seorang pangeran dari Kerajaan Kapilavastu, beliau sangat dijaga dan penuh dengan gelimang harta. Namun, pengalamannya bertemu orang yang dilahirkan, orang sakit, dan orang yang meninggal membuatnya bertanya-tanya, buat apa manusia dilahirkan jika kemudian menderita karena sakit dan meninggal?

Lalu, beliau mendalami banyak ajaran termak bertapa atau meditasi hingga mencapai kesadaran Buddha. Bahwa orang yang sadar, adalah Buddha, sedangkan yang tersesat adalah manusia biasa. Kemudian, beliau membabarkan ajaran hingga meninggal.

Ajaran Buddha

Jadi, perayaan Trisuci Waisak adalah bagaimana kita menjadi pelaksana dari ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pelaksana, tentu artinya bagaimana kita bukan hanya percaya, melainkan juga mengerti dan melakukan apa yang ada dalam ajaran Buddha tersebut.

Adakah sepanjang hidup kita menjadi pelaksana dari dharma Buddha atau sekadar pelaksana dharma yang musiman? Musiman, dalam arti kala ada ibadah setiap hari Minggu atau Jumat, saat ke wihara saja, atau ketika peringatan hari raya, baru ingat sebagai pelaksana dharma. Seperti oknum pejabat yang ketika diangkat, disumpah sesuai agama, tetapi dalam pelaksanaan sebagai pejabat malah melakukan penyalahgunaan jabatan demi keuntungan pribadi, baik itu korupsi maupun hal lainnya.

Juga bukan rahasia lagi jika ada hari raya di wihara, banyak pengemis berkumpul meminta sedekah. Karena memang pada perayaan hari raya tersebut banyak dermawan kagetan yang mendadak rajin memberikan sumbangan ketimbang hari-hari biasa. Yang ada malah memperbanyak orang-orang yang berdatangan mendadak jadi pengemis.

Perilaku sebagai dermawan kagetan ini tentu bukan hal yang baik, malah mengundang keburukan. Oleh karena itu, penting untuk mengerti menjadi pelaksana ajaran Buddha. Karena menjadi pelaksana yang musiman malah akan berbuntut banyak keburukan.

Namun, bagaimana juga menjadi pelaksana dharma yang sepanjang masa, dari lahir hingga meninggal? Sedang mandi atau memasak juga adalah bagian dari pelaksanaan ajaran Buddha? Ya. Terdengar naif atau sekadar lelucon, tetapi melaksanakan ajaran Buddha dalam keseharian memang berarti dalam keseharian seperti mandi atau memasak juga adalah bagian dari melaksanakan ajaran Buddha. Bagaimana caranya?

Ambil contoh ajaran Buddha itu adalah maîtri karuna atau yang sederhananya diartikan bagaimana kita memikirkan, membantu, mewujudkan kebahagiaan orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan kita sendiri. Hal ini tentu bisa menjadi dasar dari setiap aksi keseharian kita, yang sederhana sekalipun.

Mandi, misalnya, dengan dasar maîtri karuna kita membersihkan diri tidak sekadar sebagai kebiasaan sehari-hari, tetapi menjadikan mandi sebagai bagian untuk terwujudnya kebahagiaan orang lain. Tidak cuma bersih, tetapi juga perlu wangi harum, misalnya. Begitu juga dengan memasak. Tidak sekadar asal ada sesuatu yang bisa dimakan, tetapi menyajikan dengan baik, masakan yang enak dan kalau perlu juga bikin sehat.

Dari uraian ini kita sewajarnya paham bahwa menjadi pelaksana ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari itu sesuatu yang bisa (dilakukan) dan bukan dongeng semata. Jika di awal disinggung bagaimana politik mampu menjadi arus utama dalam kehidupan kita, sebaliknya kita juga mampu menjadikan pelaksanaan ajaran Buddha sebagai arus utama dari hidup kita.

Kita, siapa pun kita, pelaksanaan sehari-hari adalah ajaran Buddha. Kita adalah guru, maka tujuan dari keseharian kita adalah bagaimana mengajarkan murid-murid menjadi pintar dan berguna untuk sekelilingnya. Kita adalah politisi, bagaimana lalu menjadikan terciptanya kebijakan yang sehat demi terciptanya kehidupan bernegara yang baik menjadi tujuan hidup. Siapa pun kita, hendaknya menjadikan maître karuna sebagai bagian dari dasar setiap gerak dan rasa di dalam diri. (*)

 

Iwan Setiawan, Pandita pada Yayasan Pandita Buddha Dharma Indonesia

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.