Wacana

Warisan Pemikiran Buya Syafii

SYAFII Maarif adalah satu di antara “pendekar dari Chicago”, demikian Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyebutnya. Buya Syafii Maarif, demikian dia biasa dipanggil, telah pergi meninggalkan kita pada 27 Mei lalu. Selama hidupnya, Buya Syafii bukan hanya dikenal sebagai cendekiawan dan guru bangsa dengan kepribadian yang humanis, tapi juga seorang sejarawan yang kritis. Pemikiran-pemikirannya tentang isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan telah membuka pintu gerbang cakrawala keilmuan bagi para penerus bangsa. Pertanyaan-pertanyaan seputar dasar negara, model pemerintahan, sistem ekonomi, dan konsep-konsep penting, seperti kebebasan, keberagaman, kesamaan, dan keadilan, kerap menjadi sorotan utama dalam banyak tulisannya.

Pemikirannya tentang keislaman yang dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan bangsa dan negara. Buya juga selalu berpesan bahwa harus ada keberanian untuk membuat terobosan dengan berpijak pada dalil-dalil agama yang dipahami secara benar dan cerdas, tekstual sekaligus kontekstual. Dan, agar bisa mengembangkan Islam seperti itu, menurut Buya, umat Islam harus bermental terbuka, bersemangat untuk maju, optimistis, dan tidak putus asa membuka ruang-ruang dialog serta tidak bermental minoritas. Ini semua merupakan modal yang sangat besar untuk membangun toleransi dan dialog dengan kelompok lain.

Pesan-pesan Buya di atas bukannya tanpa alasan. Menurut dia, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas secara kuantitas tapi minoritas secara kualitas. Faktanya, umat Islam malah terisolasi dan tak mampu bersaing di kancah global. Hal ini terjadi karena lemahnya etos dan miskinnya kreativitas. Bagi Buya, untuk mengangkat manusia Indonesia dari lubang keterpurukannya, perbaikan kualitas pendidikan adalah cara paling ideal yang bisa ditempuh.

Kepiawaian Buya juga dapat dilihat dari bagaimana ia mengolah isu-isu keislaman dan kemodernan dengan sangat apik dan bisa mengaitkan keahliannya dengan berbagai disiplin keilmuan mutakhir. Ia mampu mempertemukan visi teosentris yang terselubung di balik ritual-formal seluruh agama. Dengan begitu, kajian keislaman tidak lagi terbatas pada persoalan normatif keagamaan, tapi juga pemikiran yang mengaitkan ajaran Islam dengan berbagai persoalan sosial kontemporer dan kemanusiaan. Tak mengherankan jika pemikiran dan karya intelektualnya memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia.

Dalam konteks keindonesiaan, Buya melayarkan impian Islam yang berkemajuan, Islam yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas, Islam Nusantara yang menghargai keberagaman (budaya, suku, bahasa, etnis, dan agama), Islam yang ramah, Islam yang menyapa, Islam yang menyalakan lilin harapan untuk membangun bersama-sama negeri ini menjadi lebih baik. Bagi Buya, di bumi Indonesia setiap elemen masyarakat dan bangsa harus mendapat perlakuan yang setara tanpa membedakan latar belakang etnis, budaya, ataupun agama. Keinsafannya akan realitas pluralisme masyarakat ini bahkan melampaui dasar-dasar keyakinannya sebagai pemeluk Islam. Meskipun demikian, hal itu tidak kemudian mengubah kesetiaannya kepada Islam. Buya tetaplah seorang muslim yang taat. Dengan pemikiran-pemikirannya yang progresif itu, tak mengherankan jika Prof. Dr. Amin Abdullah menyebut Buya Syafii termasuk dalam kategori pemikir “the progressive ijtihadists”, yaitu para pemikir modern atas agama yang berupaya menafsir ulang ajaran agama agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Sebagai salah satu intelektual muslim terkemuka, Buya Syafii juga sangat mencintai bangsanya lebih dari siapa pun. Ia menilai Indonesia merupakan bangsa yang belum sepenuhnya jadi, sehingga bangsa ini sering kali diuji dengan berbagai konflik. Ini beragam, dari kepentingan ideologi, politik, hingga belakangan ancaman pemisahan diri. Karena itu, menurut Buya, bangsa ini perlu dirawat dan bahkan, bila perlu, juga diruwat. Untuk merawat Indonesia yang besar ini, perlu orang dengan pemikiran besar dan berwawasan jauh ke depan, bukan pikiran-pikiran partisan.

Salah satu hal penting yang sering disampaikan oleh Buya adalah bahwa “Indonesia harus tetap bertahan satu hari sebelum kiamat”. Ungkapan itu menunjukkan kepeduliannya bahwa di tengah situasi krisis moral serta krisis kewarasan dan keadaban yang membahayakan, Indonesia masih sangat mungkin diselamatkan dengan menyalakan lilin kewarasan. Buya juga selalu menegaskan bahwa literasi perjalanan bangsa dan negara perlu dibaca ulang dan direnungkan dengan cara yang lebih mendalam, khususnya oleh kelompok elite yang biasa bermain di panggung politik nasional dan lokal. Tanpa asupan bacaan yang luas, pasti mereka akan gagap dalam berpolitik karena tidak punya tempat berpijak yang kokoh di kedalaman lautan sejarah bangsa.

Sebagaimana para pembaharu Islam di Indonesia lainnya, seperti Cak Nur (Nurcholish Madjid), Gus Dur, Djohan Effendi, dan Moeslim Abdurrahman, Buya Syafii selalu menegaskan pentingnya bangsa ini untuk menjalin persaudaraan. Bangsa ini harus bekerja sama dengan berbagai pihak, baik intra maupun antar-agama, untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Selama hidupnya Buya tak pernah absen mengajak bangsa besar ini untuk bangun dari ketertinggalan, meskipun untuk tujuan mulia itu ia kerap disalahpahami. Rasanya tidak banyak—jika tak dibilang langka—tokoh Islam yang berpendirian seperti Buya, yang warisan dan jejaknya harus diteruskan di kemudian hari.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, pemikiran dan karya intelektualnya harus diakui telah membawa manfaat dan pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia. Pemikiran-pemikiran Buya Syafii tentang isu-isu keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan tentu perlu dikembangkan, yakni dengan menerjemahkannya ke tataran praktis. (*)

 

Moh. Shofan, Direktur Program MAARIF Institute.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.